• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home CORPORATION

Turun 26 Persen, Chandra Asri Raih Pendapatan Rp28,2 Triliun di 2019

by Redaksi Asiatoday
March 18, 2020
in CORPORATION
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Investasi hingga USD5 Miliar di Indonesia, Chandra Asri Petrochemical Diberi Insentif Pajak

Kawasan industri PT Chandra Asri Petrochemical. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) meraih pendapatan bersih sepanjang 2019 senilai USD1,88 miliar atau setara Rp28,2 triliun.

Pendapatan tersebut berasal dari peningkatan total kapasitas produksi sebesar 603 kilo ton per annum (KTA) menjadi 4.061 KTA yang berasal dari proyek debottlenecking pabrik dan pabrik baru Polyethylene dengan kapasitas 400 KTA.

“Kami tidak hanya dapat menyelesaikan proyek penambahan kapasitas tepat waktu dan sesuai anggaran, kami juga telah merampungkan Turnaround Maintenance (TAM) terjadwal untuk pabrik-pabrik kami selama Agustus-September 2019 dengan aman dan dengan startup vertikal,” ujar Direktur Chandra Asri Petrochemical Suryandi dalam keterangan tertulis, Selasa (17/3/2020).

RelatedPosts

DAAZ Company Joins Nickel Downstream Consortium with Antam, Huayou, and EVE

Japan’s Osaka Steel Exits Indonesia, Shuts Down Joint Venture with Krakatau Steel

Arsari Group Accelerates Global Expansion

Menurut Suryandi, capaian pendapatan bersih tersebut turun sebanyak 26 persen dari raihan tahun sebelumnya sebesar USD2,54 miliar atau setara Rp38,14 triliun. Ini akibat harga penjualan rata-rata produk dan volume penjualan yang lebih rendah.

“Turnaround Maintenance terjadwal dengan dilakukannya tie-in dengan pabrik Polyethylene baru berkapasitas 400 KTA dan debottlenecking Polypropylene untuk meningkatkan kapasitas sebesar 110 KTA,” ucapnya.

Meskipun demikian, beban pokok perusahaan turun 20,6 persen menjadi USD1,7 miliar atau Rp25,63 triliun sepanjang 2019 dari USD2,15 miliar atau Rp32,28 triliun di tahun sebelumnya. Ini karena biaya bahan baku yang lebih rendah, terutama produk Naphtha turun menjadi rata-rata USD542 per MT dari USD650 per MT di tahun sebelumnya.

“Hal itu mencerminkan harga minyak mentah Brent yang lebih rendah turun ke rata-rata USD64 per bbl di 2019 dibandingkan dengan USD72 per bbl di tahun sebelumnya,” jelasnya.

Kemudian, EBITDA turun 55,2 persen menjadi USD180,1 juta dari USD401,7 juta di tahun sebelumnya yang disebabkan oleh margin petrokimia yang lebih rendah.

“Sepanjang tahun lalu merupakan kondisi ekonomi makro yang menantang dengan perang dagang, ketidakpastian geopolitik, dan penurunan margin produk petrokimia karena peningkatan pasokan kapasitas,” terangnya.

Alhasil, laba bersih perusahaan turun sebesar 87 persen menjadi USD23,6 juta dari USD182,3 juta di tahun sebelumnya. “Kami percaya pada prospek industri petrokimia yang kuat dan menarik di Indonesia,” tegas Suryandi.

Suryadi menambahkan, perusahaan akan tetap menjalankan rencana ekspansi dan mengembangkan kompleks petrokimia kedua.

“Kecepatan pelaksanaan bergantung pada pendekatan stage-gated yang telah kami terapkan secara konsisten untuk memastikan penggunaan modal yang efektif dan berhati-hati, didasari oleh basis ekuitas yang kuat di neraca kami,” tandasnya. (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: PolyethylenePT Chandra Asri
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.