• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

World Bank: Ekonomi di Asia Timur dan Pasifik hanya Tumbuh 0,5 Persen, Kemiskinan Naik Tajam

by Redaksi Asiatoday
March 31, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Bank Dunia : Jokowi Harus Benahi 4 Hal Untuk Menarik Investasi Asing

The World Bank. Doc

ASIATODAY.ID, JAKARTA – World Bank memproyeksikan ekonomi negara-negara berkembang di kawasan Asia Timur dan Pasifik (East Asia and the Pacific/EAP), melambat 2,1 persen pada 2020 dalam skenario baseline.

Dalam skenario terburuk, ekonomi di kawasan ini bisa menyentuh resesi di angka minus 0,5 persen. Pada 2019, Bank Dunia diketahui memprediksi ekonomi EAP akan tumbuh setidaknya 5,8 persen.

“Pertumbuhan ekonomi di China diproyeksikan menurun menjadi 2,3 persen di baseline, dan 0,1 persen dalam skenario terburuk pada 2020, dari 6,1 persen pada 2019,” tulis Bank Dunia dalam laporan terbarunya, Selasa (31/3/2020).

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Negara-negara berkembang di kawasan EAP telah berada dalam tekanan perdagangan internasional dan wabah virus corona. Kini negara di kawasan menghadapi situasi yang lebih sulit ketika pandemi memukul telak pemain utama ekonomi dunia.

Sementara itu, pertumbuhan EAP jika tidak termasuk China, diproyeksikan melambat dari 4,7 persen pada 2019 menjadi 1,3 persen dalam skenario baseline dan minus 2,9 dalam skenario paling buruk pada tahun 2020. Ekonomi baru diprediksi akan pulih secara bertahap pada 2021 ketika dampak wabah sudah dapat diatasi.

China mengalami kontraksi besar pada sektor manufaktur bulan lalu dengan angka purchasing managers’ index (PMI) 35,7.

Namun Biro Statistik China hari ini merilis PMI Maret yang sudah berada di atas 50. Hal ini menandakan aktivitas ekonomi di China mulai bergeliat kendati masih sepi permintaan global karena wabah.

Bank Dunia mengungkapkan masih harus dilihat apakah pemerintah dapat mengaktifkan kegiatan ekonomi dengan segera setelah dihentikan secara mendadak. Banyak industri besar dilaporkan telah melanjutkan produksi, meskipun banyak perusahaan kecil dan menengah masih berjuang.

“Perkiraan tidak langsung, seperti indikator polusi, menunjukkan bahwa aktivitas meningkat secara bertahap di China,” tulis World Bank.

Selain itu, wabah Covid-19 juga akan berdampak serius pada pengurangan kemiskinan di seluruh wilayah.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa di bawah skenario pertumbuhan dasar jika tidak ada pandemi, 24 juta orang lebih sedikit akan keluar dari kemiskinan di seluruh EAP pada 2020. Namun, jika situasi ekonomi semakin memburuk, maka kemiskinan diperkirakan meningkat sekitar 11 juta orang.

Proyeksi sebelumnya memperkirakan bahwa 35 juta orang akan keluar dari kemiskinan di wilayah ini pada 2020, termasuk lebih dari 25 juta di China saja. Rumah tangga yang terkait dengan sektor ekonomi yang terkena dampak Covid-19 akan menghadapi risiko lebih tinggi untuk jatuh ke dalam kemiskinan, setidaknya dalam jangka pendek.

Sektor-sektor ini termasuk pariwisata dan ritel di Thailand, dan manufaktur dan tekstil di Vietnam. Pekerja informal di semua negara kemungkinan besar akan terdampak.

Selain itu, sistem keuangan di seluruh wilayah tetap rentan terhadap guncangan eksternal, terutama di negara-negara dengan utang sektor swasta yang tinggi.

Tingkat kenaikan utang China, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand (EAP-5) jauh lebih cepat daripada tingkat kenaikan untuk seluruh dunia. Dengan demikian persentase EAP-5 dari total utang global meningkat dari 3,4 persen pada 2005 menjadi 18 persen pada 2019.

Semua negara di kawasan ini dengan tajam menurunkan prediksi pertumbuhan. Faktor spesifik seperti kekeringan di Thailand, dan guncangan komoditas di Malaysia dan Mongolia, juga membebani prospek.

“Di negara-negara Pulau Pasifik, prospek untuk tahun 2020 memiliki risiko besar karena ketergantungan ekonomi mereka pada hibah dan pariwisata,” tulis World Bank. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Asia PasifikCorona AsiaCoronavirusCOVID-19World Bank
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesian Cooperatives Minister Backs Cooperative-Led Sugarcane Downstreaming
  • Indonesia Moves to Control Global Nickel Pricing With New National Minerals Exchange
  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.