• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Efek Covid-19, Pemulihan Ekonomi Global Akan Panjang 

by Redaksi Asiatoday
April 16, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Efek Covid-19, Pemulihan Ekonomi Global Akan Panjang  

Pandemi Global coronavirus (Covid-19). Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat dampak pandemi coronavirus (Covid-19).

Hasil hitungan perbankan Amerika Serikat (AS) pandemi ini menggerus  pendapatan ekonomi global hingga USD5 triliun. Angka ini lebih besar dari nilai ekonomi Jepang dalam dua tahun ke depan.

Kendati penurunan ekonomi diperkirakan hanya berumur pendek, namun pemulihannya membutuhkan waktu. Bahkan dengan dosis stimulus moneter dan fiskal yang dikucurkan saat ini, produk domestik bruto tidak akan kembali ke tren sebelum krisis berakhir  setidaknya pada 2022. Skala waktu itu serupa dengan yang terjadi setelah krisis keuangan global pada 2008 silam.

RelatedPosts

Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed

Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls

Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA

Hal itu menggarisbawahi tugas besar bagi para pembuat kebijakan, yang harus memberikan cukup stimulus untuk mendorong ekonomi kembali rebound, seraya mempertahankan kebijakan karantina dan penutupan bisnis untuk mencegah penyebaran virus.

“Trajektori sangat berarti. Jika lintasan Anda positif, itu mendukung kepercayaan bisnis dan mendukung individu yang merasa mereka bisa mendapatkan pekerjaan. Itu unsur penting yang memasuki paruh kedua tahun dan 2021,” kata Kepala Ekonom Citigroup Inc. Catherine Mann.

Dilain pihak, JPMorgan Chase & Co memprediksi dunia akan kehilangan USD5,5 triliun hampir 8 persen dari PDB hingga akhir tahun depan. Biaya untuk ekonomi negara maju saja akan sama dengan yang disaksikan pada resesi 2008-2009 dan 1974-1975.

Morgan Stanley memandang, meskipun ada respons kebijakan yang agresif, pemulihan baru akan terjadi pada kuartal ketiga 2021 sebelum PBD di negara maju kembali ke perolehan saat sebelum corona.

Sedangkan Deutsche Bank AG mengatakan PDB AS dan Uni Eropa kemungkinan akan berada pada angka USD1 triliun dibawah target sebelum masa corona, pada akhir 2021.

Menurut Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), pandemi dapat menyebabkan perdagangan internasional terpukul lebih keras dibandingkan dengan era pasca perang. Dana Moneter Internasional (IMF) akan mengumumkan perkiraan terbaru sebagai bagian dari pertemuan musim semi minggu depan.

“Ekonomi global sudah berkontraksi, dan kehilangan tenaga lebih cepat daripada pada hari-hari awal krisis keuangan,” kata ekonom Bloomberg, Dan Hanson.

Selain jumlah kematian yang terus meningkat, bisnis akan kehilangan pendapatan dan banyak yang terpaksa ditutup. Jutaan karyawan akan dikeluarkan dari pekerjaan.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengatakan minggu ini bahwa lebih dari 1 miliar pekerja berisiko tinggi terhadap pemotongan gaji atau kehilangan pekerjaan.

“Ini akan bersifat sementara, tetapi itu menekankan segalanya,” kata CEO Blackstone Group Inc. Steve Schwarzman.

Bank for International Settlements telah memperingatkan bahwa upaya negara yang tidak terkoordinasi dapat menyebabkan gelombang kedua, skenario terburuk yang akan membuat PDB AS mendekati 12 persen di bawah tingkat sebelum virus pada akhir 2020.

Sementara itu, Kepala Penelitian Kebijakan Makro Global State Street Global Advisors Amlan Roy mengungkapkan tanpa upaya global yang terpadu, pasar negara berkembang menghadapi jalan yang sangat panjang menuju pemulihan,

“Resesi yang akan kita lihat, jika pasar negara berkembang mengatasi pandemi sampai Juni, adalah sesuatu yang bisa berlangsung bertahun-tahun, seperti krisis Asia dan Amerika Latin. Ini kemungkinan akan efek lima atau 10 tahun jika dunia tidak bersatu,” urainya.

Konsekuensi dari pandemi ini kemungkinan besar akan dirasakan untuk waktu yang sangat lama. Penelitian dari University of California, Davis, menunjukkan bahwa wabah sebelumnya cenderung membatasi upah dan membebani investasi selama beberapa dekade.

Kepala Ekonom di Berenberg Holger Schmieding menilai pemerintah mungkin perlu menjaga pembatasan perjalanan besar-besaran pada akhir 2020 atau 2021 untuk mencegah pandemi berulang. Di sisi lain, pemerintah juga harus tetap meningkatkan konsumsi untuk mendukung pemulihan. (ATN)

Sumber : Bloomberg

Tags: CoronavirusCOVID-19Krisis EkonomiPandemi GlobalResesi EkonomiResesi Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.