• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

FinCEN File Ungkap Skandal Pencucian Uang Melalui Bank-bank Global

by Redaksi Asiatoday
September 21, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
FinCEN File Ungkap Skandal Pencucian Uang Melalui Bank-bank Global

Pencucian uang. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Skandal pencucian uang melalui bank-bank global terbongkar melalui Konsorsium Investigasi Jurnalis Internasional (ICIJ).

Temuan itu bersumber dari File FinCEN, dokumen rahasia pemerintah AS yang menjelaskan aksi sejumlah bank global dalam melakukan tindakan pencucian uang untuk menghapus jejak sumber dana jaringan kriminal.

Dokumen File FinCEN mencakup lebih dari 2.100 laporan aktivitas mencurigakan yang diajukan oleh bank dan perusahaan keuangan lain ke Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan Departemen Keuangan AS. FinCEN, adalah unit intelijen sistem global untuk memerangi pencucian uang.

RelatedPosts

Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed

Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls

Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA

Dikutip dalam laporannya yang dipublikasikan di www.icij.org, Senin (21/9), ICIJ melaporkan sejumlah nama bank kelas kakap dunia, seperti JPMorgan, HSBC, Standard Chartered Bank, Deutsche Bank, dan Bank of New York Mellon.

Mereka disebut terus mengambil untung dari praktek berbahaya itu, bahkan setelah otoritas AS mendenda lembaga keuangan tersebut karena kegagalan membendung aliran uang panas sebelumnya.

ICIJ juga mengungkapkan alasan bank kelas kakap itu mempertahankan praktek tersebut, yakni semata demi keuntungan. Bank bisa meraup keuntungan dari uang yang berputar melalui jaringan rekening pengguna sistem keuangan tersebut.

JPMorgan, misalnya, berhasil mencetak pendapatan sekitar setengah miliar dolar AS dari kasus penipuan investasi dengan skema Ponzi oleh Bernie Madoff.

Di sisi lain, berurusan dengan nasabah curang memang membawa risiko. Dalam kasus Madoff, JPMorgan harus membayar USD2,6 miliar kepada agensi AS untuk menyelesaikan penyelidikan atas perannya dalam skema Madoff.

Namun, JPMorgan berhasil membukukan keuntungan lebih dari dua kali lipat jumlah denda itu hanya dalam satu kuartal, yakni hampir USD22 miliar dalam satu tahun.

Tak berhenti pada kasus Madoff, JPMorgan kembali terlibat dalam aliran uang oknum yang terlibat kasus kejahatan, menurut FinCEN Files.

Salah satunya, Jho Low, seorang pemodal yang dituduh oleh pihak berwenang di berbagai negara sebagai dalang penggelapan lebih dari USD4,5 miliar dari dana pembangunan ekonomi Malaysia atau 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Low memindahkan dana lebih dari USD1,2 miliar melalui JPMorgan dari 2013 hingga 2016.

Kemudian, JPMorgan juga mengalirkan uang untuk perusahaan dan orang-orang yang terkait dengan skandal korupsi di Venezuela. Korupsi ini menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Salah satu warga Venezuela yang mendapat bantuan dari JPMorgan ialah Alejandro “Piojo” Isturiz, mantan pejabat pemerintah yang didakwa oleh otoritas AS sebagai pemain dalam skema pencucian uang internasional.

Menurut FinCEN Files, JPMorgan diduga memindahkan lebih dari USD63 juta untuk perusahaan yang terkait dengan Isturiz dan skema pencucian uang periode 2012 hingga 2016.

Selain JPMorgan, bank kakap lainnya HSBC, Standard Chartered Bank, Deutsche Bank, dan Bank of New York Mellon juga terus mengalirkan dana oknum kriminal meskipun telah mendapatkan hukuman dari otoritas AS.

Pada 2012, HSBC mengakui telah mencuci setidaknya USD881 juta dana kartel narkoba Amerika Latin. Para pelaku menggunakan kotak berbentuk khusus yang sesuai dengan teller HSBC untuk memasukkan sejumlah besar uang dari bisnis narkoba.

Imbasnya, bank terbesar di Eropa membayar denda USD1,9 miliar dan pemerintah setuju untuk menangguhkan tuntutan pidana terhadap bank.

Investigasi atas dokumen itu, dipimpin oleh 108 media internasional dari 88 negara ini didasarkan pada ribuan laporan aktivitas mencurigakan (SARs) yang disampaikan kepada lembaga penegakan hukum keuangan Departemen Keuangan AS, FinCEN, oleh berbagai bank di seluruh dunia. (ATN)

Tags: Amerika SerikatFinCEN FileICIJMoney LoundryPencucian Uang
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.