• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 17, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

Tekan Emisi Karbon, Indonesia Optimalkan Energi Terbarukan

by Redaksi Asiatoday
October 27, 2020
in GREEN ENERGY
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Masa Depan Indonesia Bergantung Pada Energi Hijau

Geothermal Energy Station Muara Laboh. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia berkomitmen menjadi bagian dari penggerak Sustainable Development Program (SDGs) untuk mencapai zero karbon dan menekan laju pemanasan global.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, saat ini green product menjadi tren di dunia.

Oleh karena itu, sebagai negara yang kaya dengan bahan mineral dan sumber energi tidak terbarukan (batu bara) dan energi terbarukan (hidropower, geothermal), Indonesia harus bisa mengoptimalkan penggunaan SDA tersebut dengan memperoleh nilai tambah yang sebesar-besarnya.

RelatedPosts

World Bank and Japan Launch New Push to Secure Global Critical Minerals Supply Chains

Bpfilters Launches Innovative B50 Biodiesel Filter Product

Indonesia Launches Asia’s Largest Cooperative-Based Renewable Energy Initiative

“Sebagai negara kaya dengan mineral dan sumber daya alam, Indonesia harus mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam dengan nilai tambah sebesar-besarnya,” ujar Luhut dalam rapat virtual dengan perwakilan ITB, UGM, PT INKA, PLN, dan BMKG untuk mendiskusikan berbagai elemen terkait penyusunan strategi hilirisasi SDA Indonesia, dikutip dari siaran pers, Selasa (27/10/2020).

Selama 120 tahun terakhir, trend supercycle dari komoditas, seperti base metals serta minyak bumi dan batu bara disebabkan oleh industrialisasi dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea Selatan dan China.

Menurut Luhut, penting untuk mendorong hilirisasi SDA mineral di Indonesia untuk memanfaatkan next supercycle yang diperkirakan akan muncul dari tren perubahan kebijakan yang mengutamakan low carbon emission energy dan green product, global economic recovery, serta proses urbanisasi dari negara-negara berkembang.

Indonesia akan mengoptimalkan sumber daya energi terbarukan dan rendah emisi seperti hydropower yang dikombinasikan dengan kawasan industri untuk dapat mendorong proses industrialisasi yang menghasilkan produk-produk rendah emisi.

Pemerintah juga akan membentuk tim terpadu lintas kementerian/lembaga untuk menyusun strategi hilirisasi SDA Indonesia serta pengembangan green product ini, terutama menyiapkan skema insentif dan disinsentif agar mempercepat eksekusi serta keterlibatan sektor swasta.

“Selama ini Indonesia memiliki semua bahan-bahan baku, kita yang tidak pernah memperhatikan ini, hanya gali-gali dan ekspor. Berbagai jenis base metal memiliki peran tersendiri dalam aktivitas konstruksi dan industri. Ini peluang kita untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri,” kata Luhut.

Dengan adanya inventarisasi dan strategi hilirisasi sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia, maka akan sangat mudah mengelola dan memanfaatkannya untuk kepentingan dan kemajuan bagi Tanah Air, terutama di sektor industri dan energi.

Luhut menjabarkan bahwa perubahan transisi ke low carbon saat ini dan masa mendatang tidak akan terelakkan, serta semakin nyata. Hal ini terlihat dari permintaan pasar yang sudah semakin mementingkan aspek lingkungan dari sebuah produk. 

Oleh karena itu, minat dan keinginan investor untuk mengembangakan green product ini sangat tinggi.

“Saya melihat di market ini, mereka juga ingin supaya lingkungannya bagus, jadi low carbon energy itu mereka lihat. Sehingga China, Austalia, Jepang melihat peluang investasi dengan membuat hydropowerdi Kalimantan Utara dan Papua,” kata Luhut.

Menurutnya, kini potensi hydropower yang melahirkan green product akan dibutuhkan negara maju sehingga Indonesia bergerak ke arah itu.

“Saya minta ITB, UGM betul-betul melakukan studi ini, nanti pemerintah akan dorong membiayai ini. Presiden memberikan green light untuk ini. Jadi kita mapping hilirisasi mineral di Indonesia dalam pengembangan energi baru, kita lihat dari timah, biji besi, katoda, alumunium, tembaga, bayangkan kita ada semuanya, selama ini kita ekspor-ekspor saja. Saya lapor presiden kalau tidak sekarang, kapan lagi,” ujarnya.

Dia menambahkan, Kemenko Marves kini sudah membuat dan menyusun strategi hilirisasi sumber daya alam Indonesia guna mengantisipasi trend low carbon dan akan disempurnakan secara berkala dengan melibatkan berbagai pihak, terutama akademisi.

Selain itu, lokasi pengembangan hilirisasi diarahkan di lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk mengoptimalkan insentif dan integrasi hilirisasi produk turunan.

“Ini mulai pengurangan PPH, pajak, impor, dan seterusnya,” kata Luhut. (ATN)

Tags: Energi Baru TerbarukanGreen Energy
No Result
View All Result

Terbaru

  • Asia Drives Global Aquatic Production to Record High, Powered by Aquaculture Expansion
  • Indonesia–Germany Set to Accelerate Economic and Industrial Alliance
  • Indonesia and Germany Deepen Strategic Partnership Amid Global Uncertainty
  • Danantara Raises US$1.5 Billion as Global Investors Flock to Indonesia Bond Offering
  • SMK and Moellhausen Encourage Local Indonesian Brands Expand into Global Markets
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.