• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Dunia Kutuk Arogansi Aparat Myanmar, Rakyat Sipil Dibantai Seperti Unggas

by Redaksi Asiatoday
March 8, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Operasi Dini Hari, Militer Myanmar Tangkap Sejumlah Orang

Aksi protes terhadap kudeta militer di Myanmar. Dok

ASIATODAY.ID, YANGON – Arogansi aparat rezim junta militer Myanmar kian tak terkendali. Dunia internasional mengutuk sikap kejam rezim tersebut terhadap rakyat sipil.

Selain memukuli demonstran, mereka juga telah menembak mati puluhan demonstran damai. Seperti dilaporkan Reuters, Minggu (7/3), rakyat bahkan menggambarkan aparat Myanmar membantai mereka seperti unggas.

“Mereka membunuh orang seperti membunuh burung dan ayam. Apa yang akan kita lakukan jika kita tidak memberontak melawan mereka? Kita harus memberontak,” seru seorang pemimpin protes kepada kerumunan di Dawei, satu kota di selatan Myanmar.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Surat kabar Global New Light Of Myanmar yang dikelola negara mengutip pernyataan polisi yang mengatakan pasukan keamanan menangani protes sesuai dengan hukum.

Dikatakan, pasukan menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan kerusuhan dan protes yang memblokir jalan umum.

Sithu Maung, anggota parlemen Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang bekerja dengan Khin Maung Latt, mengatakan tentara dan polisi menahan ayahnya pada Minggu malam.

“Mereka masuk ke rumah dan menunjuk dengan senjata, saya diberitahu,” katanya dalam satu pesan Facebook, seraya menambahkan bahwa ayahnya juga dipukuli.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pasukan keamanan telah membunuh lebih dari 50 orang untuk memadamkan demonstrasi dan pemogokan harian sejak militer menggulingkan dan menahan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari.

Para pengunjuk rasa menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi dan menghormati pemilihan umum November – yang dimenangkan oleh partai NLD secara besar-besaran tetapi ditolak oleh tentara. Tentara menyatakan akan mengadakan pemilihan demokratis pada tanggal yang hingga kini belum ditentukan.

Lebih dari 1.700 orang telah ditahan di bawah pemerintahan militer pada hari Sabtu, menurut angka dari kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik.

Pembunuhan demonstran itu telah memicu kemarahan di Barat dan dikutuk oleh sebagian besar negara demokrasi di Asia. Amerika Serikat dan beberapa negara Barat lainnya telah memberlakukan sanksi terbatas pada junta. (ATN)

Tags: Krisis Myanmar
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Moves to Control Global Nickel Pricing With New National Minerals Exchange
  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.