• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 18, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Perundingan AS dan China Gagal Capai Kesepakatan

by Redaksi Asiatoday
March 22, 2021
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Perundingan AS dan China Gagal Capai Kesepakatan

Suasana perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan China di Alaska pada Jumat (19/3/2021). Foto: Reuters

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Perundingan Amerika Serikat AS) dan China gagal mencapai kesepakatan apapun.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) bersama penasihat keamanan nasional telah menyelesaikan pembicaraan tatap muka pertama mereka dengan pejabat tinggi China di Alaska pada Jumat (19/3/2021).

Perundingan menegangkan selama dua hari itu berakhir dengan ketidaksepakatan, termasuk terkait isu utama berkisar seputar perlakuan China terhadap kelompok minoritas Muslim Uighur dan tindakan agresif China di Hong Kong, Tibet dan Taiwan.

RelatedPosts

ADB Unveils US$20 Billion Push to Accelerate Asia’s AI Revolution

Asia Drives Global Aquatic Production to Record High, Powered by Aquaculture Expansion

Indonesia and Germany Deepen Strategic Partnership Amid Global Uncertainty

“Tidaklah mengherankan bahwa ketika kami mengangkat masalah itu, secara jelas dan langsung, kami mendapat tanggapan yang defensif,” kata Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken

Zhao Lijian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa “China tidak punya ruang kompromi dalam masalah kedaulatan, keamanan dan kepentingan utama China. Tekad dan kemauan kami untuk melindungi kepentingan utama kami tidak tergoyahkan.”

Blinken mengatakan bahwa masalah ekonomi, perdagangan, teknologi dan serangan dunia maya, akan ditinjau bersama Kongres dan negara-negara sekutu AS untuk memajukan kepentingan bisnis dan pekerja.

Pertemuan pertama pemerintahan Biden dengan sesama negara adidaya itu terjadi setelah perjalanan Blinken menemui sekutu AS, Korea Selatan dan Jepang, di tengah meningkatnya agresifitas China di Asia.

Blinken mengatakan tujuan pertemuan itu adalah untuk memaparkan prioritas pemerintahan Biden. Meskipun ada banyak masalah yang tidak disepakati kedua pihak.

“Dalam masalah Iran, Korea Utara, Afghanistan, iklim, kepentingan kami bersinggungan,” tambah Blinken.

James Jay Carafano dari The Heritage Foundation mengatakan, meski terlalu dini untuk mengetahui apa kebijakan Biden terkait China, ia memperkirakan tidak akan terjadi perubahan pendekatan yang signifikan dari yang dilakukan pemerintahan Amerika sebelumnya.

“Sejauh ini, menurut saya, saya melihat lebih banyak kelanjutan ketimbang perubahan dalam hal kebijakan Amerika Serikat, dari pemerintahan Trump ke pemerintahan Biden. Mari kita identifikasi area di mana kita dan China tidak sepakat dan dorong itu semua dan tunjukkan kesediaan kita untuk melindungi kepentingan kita. Itu jauh lebih mungkin untuk membawa kita ke hubungan yang stabil secara lebih cepat,” kata Carafano.

Pengamat mengatakan, bahkan terkait retorika keras China, sebagian besar (sesungguhnya) ditujukan bagi khalayak dalam negeri. China ingin meredakan ketegangan dengan Amerika.

Abby Bard dari Center for American Progress mengatakan, “Dalam impian mereka, Amerika Serikat akan mundur dari keinginannya untuk menjadi kekuatan utama di Indo-Pasifik. Saya yakin itu tidak akan terjadi.”

Terutama setelah apa yang digambarkan Michael Kugelman dari Wilson Center sebagai “hubungan beracun” alias toxic relationship antara China dan Amerika selama pemerintahan Trump.

“Ada harapan bahwa pemerintahan Biden akan mampu mendorong detoksifikasi hubungan tersebut. Tapi yang kita lihat, hubungan itu justru semakin diracuni pada tahap ini,” ujarnya.

Pertemuan di Alaska itu hanyalah langkah pertama dan para pengamat mengatakan bahwa Amerika dan China akan terus bergerak maju. Meski demikian, butuh waktu bagi pemimpin kedua negara untuk menentukan seperti apa hubungan yang berkelanjutan di antara keduanya. (ATN)

Tags: Amerika SerikatChina
No Result
View All Result

Terbaru

  • ADB Unveils US$20 Billion Push to Accelerate Asia’s AI Revolution
  • Troys Films and South Korea’s Chan ENM Forge Strategic Partnership in Film Industry
  • Asia Drives Global Aquatic Production to Record High, Powered by Aquaculture Expansion
  • Indonesia–Germany Set to Accelerate Economic and Industrial Alliance
  • Indonesia and Germany Deepen Strategic Partnership Amid Global Uncertainty
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.