• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Amnesty International: China Ciptakan Neraka Bagi Uighur di Xinjiang

by Redaksi Asiatoday
June 12, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Bagaimana China Mencuci Otak Warga Uighur?

Warga Uighur yang ditahan oleh China. Dok

ASIATODAY.ID, XINJIANG – Kelompok aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Amnesty International mengatakan, China melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap Uighur di Xinjiang.

Provinsi itu merupakan rumah bagi para minoritas Muslim Uighur dan lainnya.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Kamis kemarin, Amnesty mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyelidikinya. Mereka mengatakan, China telah membuat orang Uighur, Kazakh, dan Muslim lainnya ditahan massal, diawasi, dan disiksa.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnes Callamard menuding pihak berwenang China menciptakan ‘pemandangan neraka dystopian dalam skala yang mengejutkan’.

“Ini sangat mengejutkan hati nurani umat manusia. Sejumlah besar orang telah menjadi sasaran cuci otak, penyiksaan dan perlakuan merendahkan lainnya di kamp-kamp interniran, sementara jutaan lainnya hidup dalam ketakutan di tengah pengawasan yang luas,” kata Callamard, sebagaimana dilaporkan BBC, Jumat (11/6/2021).

Dia juga menuduh Sekretaris Jenderal PBB António Guterres “gagal bertindak sesuai mandatnya”.

“Sekjen PBB belum menangani situasi. Dia tidak menyerukan penyelidikan internasional atas Xinjiang,” tegas Callamard.

“Menjadi kewajibannya untuk melindungi nilai-nilai yang menjadi dasar pendirian PBB, dan tentu saja tidak tinggal diam di depan kejahatan terhadap kemanusiaan,” imbuhnya.

Dalam laporan setebal 160 halaman berdasarkan wawancara dengan 55 mantan tahanan, Amnesty mengatakan ada bukti bahwa Beijing telah melakukan kejahatan kemanusiaan, seperti pemenjaraan atau perampasan kebebasan fisik berat lainnya yang melanggar aturan dasar hukum internasional; penyiksaan, dan penganiayaan.

Laporan tersebut mengikuti serangkaian temuan serupa oleh Human Rights Watch, yang mengatakan dalam laporan April lalu. Mereka yakin pemerintah China bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

China telah beberapa kali dituduh negara Barat dan kelompok HAM, melakukan genosida terhadap etnis Uighur di Xinjiang. Namun, secara tegas mereka menyangkal semua tuduhan tersebut. (ATN)

Tags: Amnesty InternasionalAmnesty InternationalHuman RightsSave UighurUnited Nations
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.