• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Badai Matahari Ekstrem Mengancam Jaringan Listrik dan Satelit Bumi

by Redaksi Asiatoday
August 16, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Badai Matahari Ekstrem Mengancam Jaringan Listrik dan Satelit Bumi

Pemanasan Matahari mengancam planet bumi. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para ilmuwan kembali mengingatkan ancaman bencana di planet bumi akibat badai matahari ekstrem.

Pasalnya, badai matahari tersebut berpotensi melumpuhkan teknologi di Bumi.

Selama lebih dari 160 tahun, Badai matahari belum melanda planet ini, meskipun sempat datang hampir berbahaya pada tahun 2012.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Dipicu oleh sebuah peristiwa kuat dari aktivitas di Matahari, badai matahari memiliki kekuatan untuk menghapus satelit dan melumpuhkan jaringan listrik di planet bumi.

Peristiwa Carrington yang terkenal pada tahun 1859, ledakan skala besar plasma dan medan magnet dari matahari membawa dampak di seluruh Eropa dan Amerika Utara.

Jika peristiwa seperti itu terulang hari ini, para ilmuwan dari AS khawatir seluruh negara akan hancur.

Menurut Gabor Toth, Profesor Ilmu dan Teknik Iklim dan Antariksa di Universitas Michigan, hanya ada dua bencana alam yang dapat berdampak pada seluruh AS. Salah satunya adalah pandemi dan yang lainnya adalah peristiwa cuaca luar angkasa yang ekstrem.

Bahaya yang ditimbulkan oleh aktivitas matahari yang meningkat, telah melahirkan inisiatif bagi para ilmuwan untuk mengembangkan model peramalan baru untuk cuaca luar angkasa yang berbahaya.

Dijuluki program Space Weather with Quantified Uncertainties (SWQU), inisiatif ini dibuat tahun lalu oleh NASA dan National Science Foundation (NSF). Diantara solusi yang diusulkan untuk masalah tersebut adalah model peramalan yang dikembangkan oleh Profesor Toth dan timnya di University of Michigan.

Versi yang ditingkatkan dari model tersebut telah digunakan oleh Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) sejak Februari tahun ini.

Versi Model Geospace yang disebut telah ditingkatkan ke versi 2.0, menggantikan model 1.5 yang digunakan sejak 2017. Alat ini memprediksi gangguan di tanah yang disebabkan oleh interaksi dengan angin matahari, aliran partikel bermuatan yang keluar dari Matahari dan keluar ke luar angkasa.

“Kami saat ini menggunakan data dari satelit yang mengukur parameter plasma satu juta mil jauhnya dari Bumi,” kata Profesor Toth.

Para peneliti sangat tertarik untuk mengamati ejeksi massa koronal atau CME (pengusiran besar plasma dan medan magnet dari korona Matahari) CME yang kuat diyakini bertanggung jawab atas Peristiwa Carrington.

“Itu terjadi lebih awal di Matahari. Dari titik itu, kita dapat menjalankan model dan memprediksi waktu kedatangan dan dampak peristiwa magnetik.” tambahnya.

Pakar dan rekan-rekannya menjalankan model peramalan pada superkomputer Frontera di Texas Advanced Computing Center di Austin.

Profesor Toth mengatakan, “Orang-orang yang mencoba sebelumnya gagal, namun mereka berhasil.

“Kami bekerja sejuta kali lebih cepat daripada simulasi brute-force dengan menciptakan pendekatan dan algoritma yang cerdas,” tandasnya. (ATN)

Tags: Badai MatahariGlobal WarmingNASAPemanasan Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.