ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden bertekad untuk mempertahankan kedaulatan Taiwan dari upaya paksa invasi China. Namun, Biden juga tidak ingin AS terlibat perang dingin dengan China.
AS secara hukum diwajibkan oleh hukum untuk memberi Taiwan sarana membela diri. Namun keputusan itu masih belum jelas apakah campur tangan secara militer diperbolehkan.
“Ya, kami berkomitmen untuk melakukan itu,” kata Biden saat ditanya apakah AS akan datang untuk membela Taiwan, seperti dilaporkan Reuters.
Pada bulan Agustus lalu, seorang pejabat pemerintahan Biden mengatakan bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah. Ia mengutip pernyataan Biden yang akan akan mempertahankan pulau itu jika diserang.
Hadir di CNN hari Kamis (21/10), Biden menegaskan bahwa masyarakat dunia tidak perlu mengkhawatirkan kekuatan militer AS, yang disebutnya terkuat di dunia.
“Orang-orang tidak perlu khawatir tentang kekuatan militer AS karena China, Rusia, dan seluruh dunia tahu bahwa kami adalah militer paling kuat dalam sejarah dunia,” kata Biden.
Menurut Biden, hal yang harus dikhawatirkan adalah apakah militer AS akan terlibat dalam kegiatan yang menempatkan mereka pada posisi di mana mereka mungkin membuat kesalahan serius. Biden tidak ingin militernya memicu perang dingin dengan China.
“Saya tidak ingin perang dingin dengan China. Saya hanya ingin China mengerti bahwa kami tidak akan mundur, bahwa kami tidak akan mengubah pandangan kami,” lanjut Biden.
Kedekatan AS dan Taiwan semakin terlihat menyusul ketegangan militer antara Taiwan dan China yang juga semakin memuncak.
Bulan ini, Menteri Pertahanan Taiwan Chiu Kuo-cheng mengatakan bahwa hubungan Taiwan dan China saat ini ada di posisi yang terburuk dalam 40 tahun. Chiu menambahkan bahwa China akan mampu melakukan invasi skala penuh pada tahun 2025.
Dari kubu lawan, Duta Besar China untuk PBB Zhang Jun mengatakan mereka sedang berupaya merealisasikan penyatuan Taiwan secara damai.
“Kami bukan pembuat onar. Sebaliknya, beberapa negara, khususnya AS, mengambil tindakan berbahaya, membawa situasi di Selat Taiwan ke arah yang berbahaya,” ungkap Chiu. (ATN)
