• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Banjir Air Laut Rendam Kawasan Pesisir Jakarta Utara

by Redaksi Asiatoday
November 6, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Butuh Kesadaran Kolektif Selamatkan Teluk Jakarta dari Limbah Farmasi

Teluk Jakarta. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kawasan pesisir Jakarta Utara kembali terendam banjir air laut pada Sabtu (6/11/2021).Wilayah paling terparah melamda kawasan Muara Baru, Penjaringan.

Banjir akibat kenaikan permukaan air laut ini sudah terjadi empat hari berturut-turut. Ketinggian banjir mencapai 50 cm. Akibat banjir, aktivitas warga terhambat.

Selain Muara Baru, banjir air laut juga merendam permukiman warga di Muara Angke, Pluit, Penjaringan dan Pelabuhan Kali Adem.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Pemicu Tenggelamnya Jakarta

Kenaikan permukaan air laut ini sudah menjadi masalah besar apalagi dikaitkan dengan isu pemanasan global. Salah satu dampak yang mengancam yaitu tenggelamnya pesisir utara Jawa, termasuk Jakarta.

Menurut Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Laksana Tri Handoko, riset dapat menjadi potensi solusi untuk menyelamatkan Pantura dan Jakarta dari laju penurunan permukaan lahan.

“Periset yang ahli di bidangnya dapat terus berkontribusi aktif untuk memberikan solusi dan pencerahan terhadap masalah yang dihadapi. Jadi tidak sekedar mengungkapkan masalah, tapi kita harus bisa menjadi problem solver,” ungkapnya, dikutip Sabtu (9/10/2021) lalu.

Sementara itu, Eddy Hermawan, Profesor Riset pada Pusat Riset Sains dan Teknologi Atmosfer – Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, mengungkapkan isu tenggelamnya Jakarta sudah mengemuka sejak tahun 2008 jauh sebelum pernyataan Joe Biden.

“Penyataan Joe Biden bahwa Indonesia harus memindahkan ibukotanya, karena akan berada di berada di bawah air tentu menjadi perhatian media massa,” ujarnya.

Ia mengasumsikan terdapat tiga faktor utama tenggelamnya Jakarta, yaitu meningkatnya sea level rise (SLR), menurunnya land subsidance (LS), dan adanya faktor lokal (daerah rawa/dataran rendah).

“Langkah bijak yang harus dilakukan untuk menyikapi prediksi tenggelamnya Jakarta yaitu dengan menyiapkan skenario berbasis penggabungan SLR dan LS dengan berbagai kombinasi data SLR dan LS menggunakan teknik spasial-temporal analysis,” ujar Eddy.

Tak hanya itu Eddy juga mengingatkan beberapa daerah di Indonesia juga terancam tengggelam.

“Masyakarat harus seoptimal mungkin mencegah kerusakan lingkungan serta mempertimbangkan pembuatan bitting gesik dan hutan mangrove, karena telah terbukti cukup efektif dalam meredam laju masuknya Rob ke daratan,” imbuhnya.

Selaras dengan pendapat Eddy, Robert Delinom, Profesor Riset bidang Geoteknologi – Hidrologi Air Tanah BRIN mengungkapkan penyebab amblesan tanah di Jakarta disebabkan empat faktor yaitu kompaksi batuan, pengambilan air tanah secara berlebihan, pembeban bangunan dan aktivitas tektonik.

“Solusi untuk mencegah tenggelamnya Jakarta dalam periode jangka pendek dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar memahami masalah ini. Sedangkan jangka panjang dengan melakukan integrasi secara tuntas terkait penyelesaian masalah yaitu dengan kombinasi konsep mitigasi dan adaptasi yang tidak tumpang tindih, zero run off dan no land subsidence city, serta merubah pola pikir masyarakat,” ujar Delinom.

Selain itu, Delinom juga menyarankan perlunya upaya mitigasi dengan melakukan pembangunan ‘pertahanan’ di garis pantai, pembangunan ‘pertahanan’ di sungai dan bantarannya, membuat ‘tempat parkir’ air dan mengantisipasi penyebab penurunan tanah. (ATN)

Tags: Banjir JakartaGlobal Warming
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.