• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home GREEN ENERGY

Presidensi G20: Indonesia Bidik Investasi Global Senilai Rp250 Triliun

by Redaksi Asiatoday
February 8, 2022
in GREEN ENERGY
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Forum G20 SFWG: Indonesia Dorong Implementasi Keuangan Berkelanjutan

Presidensi G20 Indonesia. Dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Presidensi G20 Indonesia jadi momentum strategis untuk menarik investasi global.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia memproyeksikan Indonesia berpeluang menarik investasi senilai Rp200 triliun hingga Rp250 triliun dalam forum Inagurasi Kelompok Kerja Perdagangan, Investasi dan Industri G20 atau Forum Trade, Investment and Industry Working Group (TWIIG).

“Nilai investasi ini merupakan proyeksi kita. Target kita sekitar Rp200 triliun sampai Rp250 triliun itu bisa kita dapatkan,” terang Bahlil dalam Inagurasi Kelompok Kerja Perdagangan, Investasi, dan Industri G20, Selasa (8/2/2022).

RelatedPosts

Bpfilters Launches Innovative B50 Biodiesel Filter Product

Indonesia Launches Asia’s Largest Cooperative-Based Renewable Energy Initiative

ASEAN Power Grid Gets Real: ADB Unleashes New Fund to Fast-Track Regional Energy Integration

Bahlil menegaskan bahwa angka tersebut masih perhitungan sementara. Oleh karena itu, proyeksi tersebut masih berpotensi berubah, karena saat ini pihaknya sedang menyusun dan merumuskan detail nilai investasi yang dapat diraih Indonesia dari presidensi G20.

Bahlil menjelaskan, untuk menarik investasi tersebut, pemerintah akan mendorong investasi hilirisasi sumber daya alam, agar nilai tambah pengelolaannya bisa dinikmati di dalam negeri. Hal itu sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo untuk melakukan transformasi ekonomi.

“Sektor utama yang kita dorong adalah hilirisasi mineral dan batubara (minerba). Batubara menuju dimetil eter (DME) dan metanol, nikel menuju baterai dan kemudian tembaga harus ada sampai minimal 70% nilai tambah,”tegasnya.

Menurut Bahlil, Indonesia harus menjadi garda terdepan untuk memainkan peran dalam mendorong industri menuju energi hijau atau green energy.

Pasalnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi hijau, karena memiliki pasokan bahan baku untuk mendukung konsep ramah lingkungan.

Di samping itu, saat ini dunia telah berkomitmen untuk meninggalkan energi fosil sebagai bahan bakar dan beralih ke energi baru terbarukan, Industri otomotif melalui mobil listrik.

“Indonesia saat ini menjadi satu-satunya negara didunia yang sedang memperkuat hilirisasi industri. Tidak ada negara di dunia yang memulai membangun industri battery cell-nya dari tambang, smelter, prekursor katoda,” imbuhnya.

G20 adalah forum kerja sama multilateral yang terdiri atas 19 negara utama dan Uni Eropa yang memiliki kelas pendapatan menengah hingga tinggi, serta negara berkembang hingga negara maju.

Anggota G20 terdiri atas negara-negara dari berbagai kawasan di dunia, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Argentina, Brasil, Inggris, Jerman, Italia, Prancis, Rusia, Afrika Selatan, Arab Saudi, Turki, China, Jepang, Korea Selatan, India, Indonesia, Australia, dan Uni Eropa.

Presidensi G20 tahun 2022 merupakan yang pertama bagi Indonesia selama bergabung menjadi anggota G20 sejak forum internasional tersebut dibentuk pada 1999.

Saat itu, Indonesia berada dalam tahap pemulihan setelah krisis ekonomi 1997—1998 dan dinilai sebagai emerging economy yang mempunyai ukuran dan potensi ekonomi sangat besar di kawasan Asia.

Secara resmi Presidensi G20 Indonesia dimulai pada 1 Desember 2021 sampai dengan serah terima presidensi berikutnya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) akhir tahun 2022 mendatang. Sebelumnya, penetapan Indonesia memegang Presidensi G20 dilakukan pada Riyadh Summit 2020. Sementara itu, serah terima Presidensi G20 dari Italia ke Indonesia dilakukan pada 31 Oktober 2021 di Roma, Italia.

Pemulihan ekonomi global dari krisis akibat pandemi Covid-19 masih terus berlangsung. Namun, ketidakmerataan dan ketidakpastian juga masih terjadi. Varian baru Covid-19 masih mengancam ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.

Dengan tema utama Presidensi G20 “Recover Together, Recover Stronger”, Indonesia mengajak seluruh dunia fokus bekerja sama untuk saling mendukung dan pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan dalam menyikapi krisis saat ini dan yang akan datang. (ATN)

Tags: Green EnergyHilirisasi BatubaraHilirisasi NikelKTT G20
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.