• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Dampak Perubahan Iklim, Gletser di Everest Mencair 80 Kali Lebih Cepat

by Redaksi Asiatoday
February 10, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Dampak Perubahan Iklim, Gletser di Everest Mencair 80 Kali Lebih Cepat

Para peneliti mendaki Gunung Himalaya. Foto: unseen himalaya

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perubahan iklim menjadi ancaman bagi kehidupan di planet Bumi.

Salah satu dampak paling terbesar dari perubahan iklim mengakibatkan naiknya suhu panas bumi dan menyebabkan gletser di ceruk selatan (South Col Glacier) di puncak Gunung Everest mencair.

Hal ini terungkap dari temuan pada peneliti perubahan iklim setelah memasang dua stasiun cuaca tertinggi di Bumi.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Dalam jurnal npj Climate and Atmospheric Science, tim ini melaporkan bahwa South Col Glacier kehilangan es kira-kira 80 kali lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan es untuk menumpuk di permukaan gletser.

Analisis inti tim menunjukkan bahwa es yang membutuhkan waktu 2.000 tahun untuk terbentuk di gletser, mencair sejak 1990-an, dan gletser saat ini kehilangan akumulasi es selama beberapa dekade setiap tahun.

“Studi ini menjawab salah satu pertanyaan besar yang diajukan oleh ekspedisi kami, apakah gletser tertinggi di planet ini dipengaruhi oleh perubahan iklim yang bersumber dari manusia. Jawabannya adalah ya, dan sangat signifikan sejak akhir 1990-an,” jelas Paul Mayewski, ahli glasiologi di University of Maine dan Direktur Institut Perubahan Iklim, dilansir dari Live Science, Kamis (10/2/2022).

Para ahli menyebut penurunan cepat gletser dapat berdampak serius pada gunung, dan mereka yang tinggal di dekatnya. Es yang mencair mengakibatkan lebih banyak longsoran di Everest, atau mengekspos lebih banyak batuan dasar yang membuat medan lebih berbahaya bagi pendaki.

Dalam ekspedisi tersebut, 10 peneliti mendaki ke dasar South Col Glacier dan memasang dua stasiun pendeteksi cuaca, satu di ketinggian 27.600 kaki (8.430 m) dan yang lainnya di ketinggian 26.200 kaki (7.945 m) di atas permukaan laut.

Tim juga mengebor inti es sepanjang 32 kaki (10 meter) dari gletser untuk mengungkapkan bagaimana ketebalan es gletser telah berubah dari waktu ke waktu.

Selanjutnya, tim menjalankan model komputer untuk mensimulasikan pertumbuhan dan kemunduran gletser selama ribuan tahun.

Tim menyimpulkan bahwa South Col Glacier telah kehilangan lebih dari 180 kaki (54 m) ketebalan es dalam 25 tahun terakhir. Sementara efek angin dan perubahan kelembaban mungkin sedikit banyak berkontribusi pada hilangnya es ini.

“Perubahan iklim yang disebabkan manusia adalah penyebab yang luar biasa,” kata para peneliti.

Faktanya, tim menemukan bahwa South Col Glacier mungkin mulai menipis akibat perubahan iklim sejak 1950-an. Namun, pada 1990-an, tingkat pencairan meningkat secara signifikan ketika tumpukan salju gletser (lapisan luar salju yang menumpuk seiring waktu) akhirnya menghilang, memaparkan es mentah gletser ke radiasi matahari.

“Karena kehilangan perisai es putihnya untuk memantulkan sinar matahari, South Col Glacier ditakdirkan cair dengan cepat,” tulis para peneliti.

South Col Glacier hanyalah salah satu gletser di antara banyak gletser di Himalaya. Namun, posisinya di puncak dunia menunjukkan bahwa tidak ada massa es yang aman dari perubahan iklim.

Apabila tren pencairan yang sama terjadi di gletser lain di seluruh Himalaya, maka cadangan air gletser yang menjadi sandaran lebih dari 1 miliar orang untuk air minum dan irigasi, mulai menipis secara signifikan. (ATN)

Tags: Climate ChangeEverestGunung HimalayaPemanasan GlobalPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.