• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Indonesia Serukan Penangkapan Ikan Terukur di CFI Global Partnership Consultation 2022

by Redaksi Asiatoday
March 24, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Perluas Kawasan Konservasi, Maluku Dirancang Jadi Lumbung Ikan Indonesia

Kawasan konservasi Seram, Maluku. Dok KKP

ASIATODAY.ID, BOGOR – Pemerintah Indonesia menyerukan penangkapan ikan terukur dan penataan kampung nelayan maju pada gelaran internasional Coastal Fisheries Initiative (CFI) Global Partnership Consultation 2022.

Penangkapan ikan terukur merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam rangka tata kelola perikanan tangkap secara lebih baik dengan menyeimbangkan antara ekonomi dan ekologi. Selain bermanfaat untuk menjaga kesehatan laut, juga akan dapat membuka peluang investasi, lapangan pekerjaan, dan pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Ridwan Mulyana yang menjadi National Project Coordinator menjelaskan penangkapan ikan terukur dan penataan kampung nelayan maju menjadi prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun ini. Sehingga, perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk mitra kerja sama internasional.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

“CFI Project ini kita tuangkan dalam rencana kerja tahunan yang telah disepakati untuk mendukung terobosan KKP. Muaranya pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan serta keberlanjutan sumber daya ikan dengan tetap berpedoman pada pengelolaan perikanan melalui pendekatan eksosistem (ecosystem approach to fisheries management/EAFM),” paparnya pada pertemuan yang diselenggarakan Food and Agriculture Organization (FAO) secara daring, dikutip Kamis (24/3/2022).

CFI Project merupakan implementasi program kerja sama KKP dengan Global Environment Facility (GEF)-6 setelah ditandatanganinya Grant Agreement antara KKP dengan WWF-US GEF Agency pada tanggal 23 Desember 2019.

Pada bulan Februari lalu juga telah ditandatangani rencana kegiatan CFI Project di 3 lokasi Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 715, 717 dan 718 yang tertuang dalam annual workplan and budget 2022.

“Adapun lokasi percontohan proyek ini berada di Desa Kilitay Kabupaten Seram bagian Timur dan Desa Wakidat Kabupaten Maluku Tenggara di Provinsi Maluku serta Kampung Menarbu di Kabupaten Teluk Wondama Provinsi Papua Barat. Secara umum, kegiatan yang dilakukan di antaranya menyediakan distribusi akses permodalan, pemasaran hasil tangkapan ikan dan diversifikasi usaha nelayan,” ungkap Ridwan.

Pada pertemuan itu, Ridwan juga memaparkan kesiapan Indonesia dalam menerapkan komponen CFI Project di 3 lokasi tersebut. Sinergi dan akselerasi dengan mitra kerja sama juga terus ditingkatkan di antaranya pemerintah daerah, organisasi masyarakat, asosiasi perikanan, serta akademisi dari perguruan tinggi.

“Implementasi EAFM yang akan kita bawa meliputi peningkatan kapasitas nelayan dan keluarganya termasuk wanita nelayan, pengembangan kelembagaan nelayan melalui penguatan usaha perikanan tangkap dari hulu ke hilir, penguatan pengawasan tingkat provinsi serta regulasi pemanfaatan telur ikan terbang sebagai inovasi baru dalam pengelolaan perikanan,” jelasnya.

Pertemuan Global Partnership Consultation 2022 yang dilakukan secara virtual ini berlangsung selama lima hari mulai tangal 21 hingga 25 Maret 2021. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Nathanael Hishamunda selaku FAO CFI Coordinator yang menyampaikan apresiasinya kepada setiap negara dan pihak yang terlibat proyek ini.

Pertemuan tahunan ini juga melibatkan beberapa negara dari tiga kawasan yaitu Indonesia yang mewakili kawasan Asia, Ekuador dan Peru yang mewakili Amerika Latin, serta Senegal, Cabo Verde, dan Pantai Gading yang mewakili Afrika Barat. Pertemuan ini juga dihadiri oleh institusi dan organisasi konservasi internasional serperti FAO, UNDP, UNEP, World Bank, CI dan WWF. (ATN)

Tags: Global Environment FacilityKonservasi Laut
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.