• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Arab Saudi dan UEA Peringatkan Dunia Mulai Kehabisan Pasokan Energi

by Redaksi Asiatoday
May 10, 2022
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Saham Saudi Aramco Melejit Selama 3 Hari, Capai Valuasi US$2 Triliun

Saudi Aramco facilities. Special

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Dua negara produsen minyak terbesar di dunia yakni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) memperingatkan bahwa kapasitas di seluruh sektor energi telah menipis lantaran produknya diborong usai konflik antara Rusia dan Ukraina terjadi.

“Saya sudah sangat tua, tetapi saya belum pernah melihat kejadian seperti ini,” ungkap Menteri Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman saat menghadiri pertemuan OPEC di Abu Dhabi, seperti dilansir Bloomberg pada Selasa (10/5/2022).

Menurutnya, dunia harus sadar terhadap kenyataan yang ada bahwa dunia saat ini mulai kehabisan pasokan energi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya investasi pada industri produksi dan penyulingan sehingga harga bahan bakar melonjak.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Sementara itu, Menteri Energi UEA Suhail al Mazrouei mengungkapkan dalam panel yang sama bahwa tanpa investasi global, OPEC+ tidak akan bisa menjamin pasokan minyak yang cukup setelah permintaan pulih pascapandemi.

Kedua negara ini telah menghabiskan investasi miliaran dolar AS untuk meningkatkan kapasitas minyak mentah hingga 2 juta barel per hari hingga akhir dekade ini.

Adapun produsen lainnya masih berjuang untuk mencari pendanaan karena pemegang saham dan pemerintah mendorong peralihan bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Namun, untuk saat ini, belum ada yang melaporkan kekurangan minyak sehingga OPEC+ belum berencana mempercepat peningkatan produksi.

“Pasarnya seimbang,” ungkapnya.

Negara-negara seperti Amerika Serikat dan kawasan Eropa telah menekan anggota OPEC untuk meningkatkan pasokan mereka. Harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 35 persen tahun ini menjadi sekitar US$105 per barel, utamanya karena serangan Rusia.

Sebelumnya, negara dengan ekonomi terbesar yang tergabung dalam G7 telah berjanji untuk menyetop impor minyak dari Rusia karena invasinya di Ukraina. Kendati demikian, Pangeran Abdulaziz menekankan bahwa kondisi geopolitik tidak boleh memengaruhi keputusan OPEC+. (ATN)

Tags: Krisis EnergiOPEC
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.