• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Krisis Utang, 60 Persen Negara Miskin Mulai Kolaps

by Redaksi Asiatoday
July 15, 2022
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Krisis Utang, 60 Persen Negara Miskin Mulai Kolaps

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani. Dok Kemenkeu

ASIATODAY.ID, BALI – Krisis utang kian mengancam masa depan negara-negara di dunia.

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati mengingatkan ancaman kenaikan utang saat ini bukan hanya terjadi di negara-negara miskin, tapi juga di negara menengah dan maju karena mulai terbatasnya kondisi fiskal berbagai negara di tengah meningkatnya tekanan global.

Sri Mulyani mengungkapkan hal itu dalam pembukaan atau sesi I pertemuan menteri keuangan dan bank sentral. Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7/2022).

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Menurut Sri Mulyani, saat ini 60% dari negara miskin mulai kolaps. Sementara negara berkembang memiliki kemungkinan tidak bisa membayar utang di tahun depan.

“Sekitar 60% dari negara-negara berpenghasilan rendah sudah atau hampir bangkrut. Sementara banyak negara berkembang mungkin tidak dapat memenuhi pembayaran utang selama tahun depan. Jadi ini bukan hanya satu atau dua kasus luar biasa, ini menjadi meluas ini menjadi masalah yang perlu menjadi perhatian menteri keuangan dan gubernur bank sentral bersama dengan organisasi internasional lembaga multilateral,” jelasnya.

Sri Mulyani mengungkapkan, perang antara Rusia dan Ukraina telah berimbas pada kenaikan inflasi secara global dan harga komoditas serta arah pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif juga berdampak terhadap aliran modal asing keluar (capital outflow) dari negara berkembang dan mendorong kenaikan utang di banyak negara.

Peningkatan risiko sisi moneter ini, akan terus diwaspadai karena dampaknya juga akan memberikan tekanan nilai tukar.

“Jadi perang ini memberikan tekanan tiga kali lipat, pergeseran harga komoditas dan peningkatan inflasi global, juga dapat berimbas pada limpahan utang yang nyata, tidak hanya untuk negara-negara berpenghasilan rendah, tetapi juga di negara-negara berpenghasilan menengah atau bahkan negara maju,” jelasnya. (ATN)

Tags: Krisis UtangKTT G20Utang
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.