• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Hadapi Ancaman China, Taiwan Ubah Kebijakan Wajib Militer

by Redaksi Asiatoday
December 28, 2022
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Presiden Tsai Serukan Komunitas Global Waspadai Konflik di Laut China Timur dan Selatan

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Taiwan meningkatkan kesiagaan dalam upaya menghadapi ancaman China setiap saat.

Dikutip dari Independet, Kamis (28/12/2022), Taiwan resmi mengubah kebijakan tentang wajib militer di negaranya menjadi satu tahun. Aturan baru ini akan berlaku mulai tahun 2024 mendatang.

Demikian pengumuman yang disampaikan Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen pada Selasa, 27 Desember 2022 waktu setempat.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Berbicara setelah pertemuan keamanan nasional, Tsai mengatakan Taiwan menginginkan perdamaian tetapi harus mampu mempertahankan diri.

“Selama Taiwan cukup kuat, itu akan menjadi rumah demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia, dan tidak akan menjadi medan perang,” kata Tsai.

Menurut Tsai, beberapa pelatihan militer yang diterapkan Taiwan saat ini masih belum memadai dan tidak cukup untuk mengantisipasi serangan China yang kian meningkat.

“Intimidasi dan ancaman China terhadap Taiwan semakin jelas. Tidak ada yang menginginkan perang, tetapi rekan senegaraku, perdamaian tidak akan jatuh dari langit. Taiwan ingin memberi tahu dunia bahwa antara demokrasi dan kediktatoran, kami sangat percaya pada demokrasi. Antara perang dan perdamaian, kami menuntut perdamaian,” tandas Tsai.  (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Indo Pasifik
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesian Cooperatives Minister Backs Cooperative-Led Sugarcane Downstreaming
  • Indonesia Moves to Control Global Nickel Pricing With New National Minerals Exchange
  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.