• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Indonesia Segera Buka Kembali Pembicaraan dengan China soal Natuna Utara

by Redaksi Asiatoday
February 5, 2023
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Mengapa Laut Natuna Diincar Asing?

Patroli TNI Angkatan Laut di Laut Natuna Utara. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia akan segera membicarakan kembali masalah Natuna Utara dengan China.

Indonesia berencana untuk kembali mengintensifkan pembicaraan dengan China dan negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk menyelesaikan kode etik (COC) untuk Laut China Selatan yang lama disengketakan.

Rencana ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, pada hari Sabtu, di tengah meningkatnya ketegangan di perairan strategis tersebut.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

“Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik merupakan pusat diskusi,” ujar Menlu Retno Marsudi dalam pertemuan antara para menteri luar negeri dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

“Kami juga membahas tentang COC, komitmen anggota untuk menyelesaikan negosiasi COC secepat mungkin,” ia menambahkan.

Seperti diketahui, negosiasi tentang COC yang mencakup kerangka kerja yang diusulkan untuk membantu mengatasi sengketa teritorial dan maritim di jalur air, telah terhenti selama bertahun-tahun.

Ini karena beberapa negara anggota memprioritaskan hubungan bilateral dengan China di atas konsensus regional. Padahal, China telah mengklaim yurisdiksi atas hampir seluruh Laut China Selatan berdasarkan “sembilan garis putus-putus” berbentuk U. Sembilan garis putus-putus ini sendiri merupakan sebuah batas yang ditemukan tidak memiliki dasar hukum oleh Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag pada tahun 2016.

Anggota ASEAN Filipina, Vietnam, Malaysia dan Brunei semuanya memiliki klaim yang tumpang tindih dengan China di perairan strategis itu. Indonesia bukan penggugat resmi tetapi menghadapi penolakan dari China atas eksplorasi cadangan minyak dan gasnya di Laut Natuna Utara.

Bulan lalu negara itu mengirim kapal perang ke daerah itu untuk memantau kapal penjaga pantai China yang masih bertahan. Jadi, memang sudah seharusnya Indonesia dan beberapa negara ASEAN membuka kembali pembicaraan. (Al Arabiya)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Indo PasifikLaut China SelatanZEE Natuna Utara
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.