• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 25, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Ekspor Produk Kayu Indonesia Berbasis SVLK Tembus US$14,51 Miliar, Pasar AS Tertinggi

by Redaksi Asiatoday
February 18, 2023
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pelaku Usaha Kayu Indonesia Menanti Penyederhanaan Mandatori SVLK

Industri Kayu berstandar SVLK. Foto : Laporjpik

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia mencatat nilai ekspor tertinggi dari produk kayu berbasis Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK).

“Berbasis SVLK, ekspor produk kayu Indonesia tercatat mencapai US$14,51 miliar, tertinggi sepanjang sejarah dan naik 7 persen secara year on year (yoy) dimana tahun 2021 ekspor tercatat sebesar US$13,5 miliar,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Hutan Lestari, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Agus Justianto pada Webinar bertajuk Unlocking Wood Product Business Opportunities in The US Market: Why Indonesian Wood Products are Your Ideal Choice, di Kedutaan Besar RI di Washington DC pada Kamis (16/2/2023).

Agus mengungkapkan, Amerika Serikat (AS) menjadi tujuan ekspor terbesar kedua di bawah China dengan nilai mencapai US$2,23 miliar. Produk yang diminati konsumen AS adalah furnitur kayu, plywood (panel kayu), dan kertas.

RelatedPosts

ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution

Indonesia Nickel Industry Hit by Sulfur Squeeze as Global Market Tightens

Indonesia’s $2.5 Billion Nickel Bet Faces Global ESG Test as Investment Boom Accelerates

Salah satu produk yang diminati pasar AS adalah kayu lapis tipis dengan ketebalan 2,7 mm yang dimanfaatkan untuk pembuatan mobil karavan.

Besarnya potensi pasar strategis ini, pemerintah dan pelaku usaha Indonesia siap bersinergi untuk meningkatkan ekspor produk kayu dan turunannya ke AS.

Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri, Umar Hadi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu mengatakan berbagai tantangan yang ada bakal dicarikan solusi secara bersama-sama agar pangsa pasar produk kayu Indonesia di AS dapat terus meningkat.

“Kita harus optimis dapat memperluas pasar di Amerika Serikat karena terdapat ruang yang luas untuk pertumbuhan dan ekspansi lebih lanjut,” ujarnya.

Umar Hadi mengharapkan ke depan bisa tercipta kesempatan besar untuk menjajaki kemitraan antara pelaku bisnis potensial kedua negara.

Sementara itu Duta Besar Indonesia untuk AS Rosan P. Roeslani mengungkapkan produsen produk kayu Indonesia harus menggarap serius pasar AS, karena permintaan produk kayu Indonesia di AS terus tumbuh ditopang oleh produk furnitur untuk kebutuhan perumahan maupun perkantoran.

“Dalam beberapa tahun ke depan permintaan produk furnitur diproyeksi akan terus meningkat seiring perubahan selera pada produk yang sesuai dengan gaya hidup yang ramah lingkungan,” katanya.

Ketua Umum Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia (FKMPI) Indroyono Soesilo menyatakan Indonesia punya peluang untuk terus meningkatkan ekspor.

Salah satu alasannya adalah AS mengenakan bea masuk yang tinggi kepada produk-produk asal China, yang merupakan eksportir produk kayu terbesar ke sana.

Selain itu, Indonesia juga mendapat fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) dari AS sehingga beberapa produk kayu bebas bea masuk.

“Kalau pangsa pasar kita bisa dinaikkan 100 persen dari saat ini sekitar US$2 miliar, baru sekitar US$4 miliar. Masih kecil jika dibandingkan dengan potensinya yang mencapai US$63 miliar,” kata Indroyono yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) .

Dia menuturkan, promosi secara gencar dan bersama-sama perlu dilakukan agar konsumen di AS bisa semakin menerima produk kayu Indonesia.

Indroyono juga sepakat soal perlunya membangun pusat pameran secara permanen di AS seperti yang diusulkan oleh HIMKI dan menyiapkan gudang.

Ketua Presidium HImpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia HIMKI Abdul Sobur, menyatakan, pasar AS perlu digarap serius karena dari ekspor produk hasil hutan Indonesia, furnitur menempati peringkat terbesar.

“Ini juga selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menargetkan ekspor furnitur dapat mencapai US$5 miliar pada tahun 2024,” katanya pada acara yang diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari para pengusaha industri kayu baik di Indonesia maupun di berbagai wilayah di AS. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Ekspor Pelet KayuIndonesia-Amerika Serikat (AS)Industri KehutananSistem Verifikasi Legalitas dan KelestarianSVLK
No Result
View All Result

Terbaru

  • ADB Unleashes $100 Million Digital Bond to Power Asia’s Next Economic Revolution
  • Indonesia Tells Global Leaders: Net Zero Means Nothing Without Nature
  • As Heatwave Sweeps Europe, Study Warns of Growing Toll on Household Incomes
  • Indonesia Bets on AI to Fix Healthcare Gaps, But Risks Leaving Vulnerable Workers Behind
  • Indonesia Flags Trafficking, Extortion Risks at Singapore-Malaysia Gateway
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.