• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home TRAVEL/TOURISM

Gunung Everest Makin Horor, 2023 Jadi Tahun Mematikan Bagi Pendaki

by Redaksi Asiatoday
June 17, 2023
in TRAVEL/TOURISM
Reading Time: 2 mins read
A A
0
China Buat Garis Pemisah di Puncak Everest untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Aktivitas pendakian Gunung Everest. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Gunung Everest makin tidak akrab dengan para aktivis petualangan.

Pasalnya, tak kurang 17 pendaki tewas di Gunung Everest terhitung sejak awal tahun hingga Juni 2023.

Musim pendakian ini dinilai sebagai yang kedua paling mematikan dalam sejarah setelah 17 pendaki dinyatakan hilang. Dengan rincian 12 pendaki tewas dan 5 orang lainnya masih belum ditemukan. Jumlah ini hampir menyamai musim pendakian paling mematikan yang terjadi pada 2018, di mana 18 pendaki tewas akibat gempa bumi.

RelatedPosts

Bali Branded Unsafe as South Korea Issues Travel Warning

War Fallout Dims Dubai’s Glitter

Middle East War Shocks Global Travel: Over 4,500 Foreign Tourists Stranded in Thailand

Sherpa dan penyelenggara ekspedisi menyatakan penyebab tragedi ini dikaitkan dengan cuaca ekstrem dan kesalahan atau kecerobohan pendaki, baik merujuk pada pendaki yang mengambil risiko yang tidak perlu, mengabaikan petunjuk keselamatan, atau menghadapi tantangan di area yang tidak cocok untuk kemampuan mereka.

Direktur Departemen Pariwisata Nepal, Yuba Raj Khatiwada, perubahan cuaca yang ekstrem menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kematian pendaki di Gunung Everest.

“Kondisi cuaca yang tidak stabil dan perubahan iklim memiliki dampak besar di pegunungan,” jelasnya dilansir dari Business Insider, Jumat (16/6/2023).

Mengutip dari Al Jazeera, suhu di Gunung Everest biasanya turun hingga -18 derajat Fahrenheit, tetapi pada 2023 ini, suhu turun hingga -40 derajat Fahrenheit.

Bahkan Mingma Gyalje Sherpa, anggota tim yang membuka rute ke puncak Gunung Everest pada tahun tersebut, menyatakan tidak hanya para pendaki. Bahkan pemandu yang berpengalaman pun terkena radang dingin.

“Sejauh ini pemandu gunung yang biasa menyediakan kamp sebagai tempat istirahat dan perlindungan bagi pendaki selama pendakian sangat sedikit dan sekarang kamp tidak terisi penuh,” jelasnya.

Dia menyebut, beberapa pendaki asing yang tidak siap pun terlalu bersemangat untuk mendaki Gunung Everest dan memulai pendakian tanpa persiapan yang memadai.

“Beberapa korban dalam pendakian tersebut mungkin bisa dicegah jika semua perbekalan yang diperlukan telah disiapkan dengan baik sebelumnya,” ujarnya

Saat ini, Nepal sendiri mengeluarkan rekor izin terbanyak dalam pendakian. Izin tersebut dikeluarkan kepada para pendaki yang ingin mencoba mencapai puncak Everest selama periode tersebut untuk mengatur jumlah pendaki yang ada di gunung, memastikan keamanan dan mengatur logistik yang diperlukan selama ekspedisi.

Kisah Evakuasi Pendaki Asing

Dalam beberapa waktu terakhir, aksi sejumlah pendaki asing di Gunung Everest viral di media sosial. Aksi mereka pun memicu reaksi di media sosial China.

Pertama, soal kisah pendaki wanita dari China menolak untuk membayar pemandu Sherpa sebesar US$10.000 atau setara dengan Rp148,6 juta usai menyelamatkan nyawanya pada malam 18 Mei 2023.

Kala itu, pendaki asal China bernama Liu dirawat oleh Sherpa selama beberapa hari sebelum akhirnya sembuh. Dia beralasan, sebelum insiden tersebut terjadi, Lu disebut telah berhasil mencapai puncak Gunung Everest dan sedang dalam perjalanan turun ketika mengalami masalah yang membutuhkan bantuan penyelamatan. Sosoknya pun menolak untuk membayar tip bagi pemandu yang telah menyelamatkannya. Liu mengatakan dia hanya akan membayar US$4.000 atau Rp59,4 juta.

Kedua, soal seorang pendaki asal Malaysia bernama Ravi mendapat protes dari netizen, lantaran tak mau akui bantuan dari Sherpa saat mendaki di Gunung Everest. Padahal, berdasarkan informasi yang beredar, kala itu dirinya berada dalam kondisi terjepit dan menggigil kedinginan, sampai akhirnya Gelje Sherpa yang saat itu sedang memandu kliennya dari China lantas menghentikan misinya dan menggendong Ravi dari zona kematian selama enam jam. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: EverestGunung HimalayaWisata Petualangan
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.