• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Soal Produksi Pesawat Udara Nir-Awak, Indonesia Tertinggal Jauh di ASEAN 

by Redaksi Asiatoday
February 5, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Soal Produksi Pesawat Udara Nir-Awak, Indonesia Tertinggal Jauh di ASEAN 

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara di ASEAN dalam hal teknologi maupun produksi drone atau Pesawat Udara Nir-Awak (PUNA).

Karena itu, Komisi VII DPR RI mendorong PT Dirgantara Indonesia untuk mempercepat produksi drone atau Pesawat Udara Nir-Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE).

Pasalnya, drone sangat dibutuhkan tidak hanya untuk menjaga keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melainkan juga untuk dimanfaatkan di berbagai sektor industri.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

“Sebenarnya saya prihatin, bahkan miris sekali kita baru produksi drone sekarang. Sementara negara tetangga sudah sejak lama memproduksi dan mengoperasikan drone. Malaysia sejak 2012 mengoperasikan 100 lebih drone  yang sebagian besar buatan Israel. Thailand sejak tahun 1990 an sudah aktif menggunakan drone, Vietnam sejak 2011 dengan jarak jelajah sampai 4000 kilometer,” ungkap Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Alex Noerdin saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII dengan PT DI, Sekjen Kementerian Pertahanan, Kepala BPPT, PT LEN Industri, dan Kepala Lapan di Ruang Rapat Komisi VII DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (3/2/2020).

Nurdin menyayangkan Indonesia baru akan memproduksi drone dengan anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp800 miliar tanpa percepatan.

“Sementara dengan percepatan sedang dihitung, paling-paling sekitar Rp1,5 triliun. Padahal LRT di Palembang saja dananya Rp 12,4 triliun. Disini terlihat hanya masalah prioritas saja. Ini yang masih perlu dipikirkan lagi,” ungkap Alex.

Dalam rapat tersebut, Alex meyakini bahwa Komisi VII DPR akan seutuhnya mendukung, bahkan mendorong percepatan pembuatan PUNA MALE. Mengingat Indonesia memiliki teknologi dan didukung oleh SDM yang handal.

“Artinya banyak ahli-ahli dari negeri sendiri yang tidak kalah pintarnya dengan negara lain. Para ahli tersebut hanya butuh dukungan dari pemerintah untuk bisa mewujudkan rencananya tersebut,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Anggota Komisi VII DPR RI Rofik Hananto, yang menilai dunia  drone saat ini sangat penting. Tidak hanya untuk menjaga pertahanan dan keamanan negara, drone juga dibutuhkan di sektor industri. Apalagi Indonesia sebagai negara kepulauan, agraris dengan kekayaan alam, hutan yang melimpah.

“Sehingga drone jadi satu alat yang sangat dibutuhkan. Baik untuk tanam benih, semprot tanaman, pemetaan hutan, pemetaan lidar dan lain sebagainya. Jadi tidak hanya untuk keamanan, industri atau pebisnis pun sangat butuh drone,” ucap Rofik.

Ditegaskannya, Indonesia butuh percepatan terkait dengan drone. Tidak hanya prototipe-prototipe saja, tapi harus dalam bentuk jadi.

Beberapa waktu lalu Indonesia sangat bangga membeli drone rainbow CH4 buatan China yang seharga Rp 56 miliar. Bahkan saat pelantikan presiden pun diamankan oleh drone tersebut.

“Padahal, katanya drone kita jauh lebih hebat, lebih bagus, bisa mencapai ketinggian 30 ribu kaki, sementara drone China hanya mampu mencapai 15 ribu kaki, dengan jelajah 1000-2000 Kilometer,” jelasnya.

“Saya berharap percepatan pembuatan atau produksi drone ini dapat segera dilakukan, tidak bernasib seperti drone buatan dalam negeri sebelumnya seperti alap-alap dengan masa jelajah 5 jam dan drone wulung 4 jam, yang kini tidak diketahui bagaimana perkembangannya,” tandasnya. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Dirgantara IndonesiaDroneKomisi VII DPRPUNA MALE
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.