• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Resesi Global, World Bank Sampaikan Langkah Penyelamatan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik

by Redaksi Asiatoday
March 31, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Resesi Global, World Bank Sampaikan Langkah Penyelamatan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik

Laporan World Bank bertajuk "East Asia and the Pacific in the Time of COVID-19". Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – World Bank menyampaikan sejumlah langkah strategis untuk menyelamatkan ekonomi Asia Timur dan Pasifik dari resesi global.

Langkah-langkah World Bank itu dituangkan laporan terbarunya yang bertajuk “East Asia and the Pacific in the Time of COVID-19”.

Pertama, sesuaikan kebijakan kesehatan dan kebijakan ekonomi makro. Banyak pemerintah mengambil langkah-langkah pengendalian transmisi infeksi virus seperti karantina wilayah dan larangan bepergian. Secara paralel, untuk mengurangi dampak ekonomi, pemerintah mengambil langkah-langkah moneter, fiskal dan struktural.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Selain itu, investasi awal di bidang kesehatan dapat mengurangi kebutuhan tindakan pencegahan yang mahal ketika epidemi menyerang. Misalnya, negara-negara seperti Singapura dan Republik Korea tampaknya telah diuntungkan dari pengujian, pelacakan, dan karantina tingkat tinggi.

Kedua, mendesak dengan cepat kapasitas perawatan kesehatan untuk memenuhi permintaan luar biasa untuk periode berkelanjutan.

Selain memperluas fasilitas perawatan kesehatan konvensional dan pabrik peralatan medis, langkah-langkah inovatif diperlukan, seperti mengubah tempat tidur rumah sakit biasa untuk penggunaan ICU dan dengan cepat melatih orang untuk bekerja dalam perawatan kesehatan dasar.

Ketiga, menyesuaikan kebijakan fiskal dan moneter untuk memenuhi krisis wabah virus corona. Kebijakan ekonomi makro ekspansif tidak dapat berbuat banyak untuk meningkatkan produksi dan pekerjaan selama periode ketika pekerja diwajibkan untuk tinggal di rumah.

Sebaliknya, langkah-langkah fiskal harus mendukung respons kesehatan masyarakat, memberikan perlindungan sosial untuk meredam guncangan, terutama bagi mereka yang paling rentan secara ekonomi.

Misalnya, subsidi untuk pembayaran sakit dan pengeluaran untuk perawatan kesehatan dapat mengurangi tekanan dan membantu mendukung penahanan. Jaring pengaman yang diperluas dapat memberikan pertolongan sementara bagi keluarga yang penghasilannya terkena dampak buruk dari wabah tersebut.

Pemberian makan di sekolah dan dukungan lain kepada siswa selama penutupan sekolah, serta bagi pekerja untuk dapat kembali bangkit saat wabah mereda, akan memastikan pukulan ekonomi tidak akan berdampak jangka panjang terhadap sumber daya manusia.

Demikian pula, suntikan likuiditas dapat membantu perusahaan bertahan dalam bisnis dan menjaga hubungan yang bermanfaat dengan Global Value Chain.

Keempat, di sektor keuangan harus hadirkan kemudahan akses kredit untuk rumah tangga guna mengurangi kesulitan dan kelancaran konsumsi. Bagi dunia usaha, mudahkan akses likuiditas untuk membantu bertahan dari gangguan saat ini.

Pada saat yang sama regulator harus memastikan pengungkapan risiko dan mengomunikasikan harapan pengawasan dengan jelas untuk menghindari ketidakstabilan keuangan, terutama di negara-negara dengan tingkat utang yang tinggi. Bagi negara-negara miskin, keringanan utang akan sangat penting, sehingga sumber daya kritis dapat difokuskan pada pengelolaan dampak ekonomi dan kesehatan dari pandemi.

Kelima, kebijakan perdagangan harus tetap terbuka. Beberapa negara telah memberlakukan pembatasan ekspor produk medis untuk mempertahankan pasokan domestik. Ekonomi dan pengalaman baru-baru ini menunjukkan bahwa langkah-langkah ini pada akhirnya merugikan semua negara.

Keenam, di semua bidang ini harus ditingkatkan kerja sama internasional dan kembangkan kemitraan swasta publik, khususnya untuk memastikan pasokan produk medis. Semua negara harus menyadari bahwa, selain aksi nasional yang berani, kerja sama internasional yang lebih dalam adalah vaksin yang paling efektif melawan wabah ini. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: Asia PasifikCOVID-19Krisis EkonomiResesi EkonomiResesi GlobalWorld Bank
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.