• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

PBB: Ekonomi Global 2020 Turun 1 Persen, Negara Berkembang Paling Beresiko Krisis

by Redaksi Asiatoday
April 3, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
PBB: Ekonomi Global 2020 Turun 1 Persen, Negara Berkembang Paling Beresiko Krisis

Markas United Nations Departemen of Economic and Social Affairs (UN-DESA). Ist

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – United Nations Departemen of Economic and Social Affairs atau Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UN-DESA) memproyeksikan, ekonomi global akan menyusut hingga satu persen pada 2020 akibat pandemi coronavirus (Covid-19). Ekonomi juga bisa berkontraksi lebih jauh jika pembatasan kegiatan ekonomi diperpanjang tanpa respons fiskal memadai.

Demikian menurut analisis Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UN-DESA) yang dirilis pada Kamis (2/4/2020).

UN-DESA menemukan bahwa jutaan pekerja berisiko kehilangan pekerjaan ketika hampir 100 negara menutup perbatasan nasional mereka.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Itu bisa berarti kontraksi ekonomi global 0,9 persen pada akhir 2020, atau bahkan lebih tinggi jika pemerintah gagal memberikan dukungan pendapatan dan membantu meningkatkan belanja konsumen.

Menurut perkiraan, penguncian di Eropa dan Amerika Utara memukul sektor jasa dengan keras, terutama industri yang melibatkan interaksi fisik seperti perdagangan ritel, rekreasi dan perhotelan, serta transportasi.

Secara kolektif, industri-industri semacam itu mencakup lebih dari seperempat dari semua pekerjaan di negara-negara tersebut.

Ketika bisnis kehilangan pendapatan, pengangguran cenderung meningkat tajam, mengubah guncangan sisi penawaran menjadi guncangan sisi permintaan yang lebih luas bagi perekonomian.

Tingkat keparahan akibat dampak covid-19 akan sangat tergantung pada durasi pembatasan pada pergerakan orang dan kegiatan ekonomi, serta pada skala dan kemanjuran respons oleh otoritas-otoritas keuangan nasional.

Dengan latar belakang itu, UN-DESA bergabung dengan paduan suara di seluruh sistem PBB yang menyerukan paket stimulus fiskal yang dirancang dengan baik yang memprioritaskan pengeluaran kesehatan dan mendukung rumah tangga yang paling terkena dampak pandemi.

“Diperlukan langkah-langkah kebijakan yang mendesak dan berani, tidak hanya untuk menahan pandemi dan menyelamatkan nyawa, tetapi juga untuk melindungi yang paling rentan di masyarakat kita dari kehancuran ekonomi dan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi serta stabilitas keuangan,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial Liu Zhenmin.

Analisis ini juga memperingatkan bahwa efek buruk dari pembatasan ekonomi yang berkepanjangan di negara maju akan segera menyebar ke negara-negara berkembang melalui jalur perdagangan dan investasi. Penurunan tajam dalam pengeluaran konsumen di Uni Eropa dan Amerika Serikat akan mengurangi impor barang-barang konsumsi dari negara-negara berkembang.

Negara-negara berkembang, terutama yang bergantung pada pariwisata dan ekspor komoditas, menghadapi risiko ekonomi yang meningkat.

Produksi manufaktur global dapat berkontraksi secara signifikan, dan jumlah pelancong yang anjlok kemungkinan akan merusak sektor pariwisata di negara-negara berkembang pulau kecil, yang mempekerjakan jutaan pekerja berketerampilan rendah.

Badan penerbangan sipil PBB, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, menyambut baik komitmen para pemimpin ekonomi utama G20 akhir pekan lalu yang menunjukkan bahwa dukungan fiskal yang berani diperlukan untuk melindungi industri perjalanan global, untuk membantu pemulihan global dalam beberapa bulan mendatang.

Sementara itu, penurunan pendapatan terkait komoditas dan pembalikan aliran modal meningkatkan kemungkinan tekanan utang bagi banyak negara. Pemerintah mungkin terpaksa membatasi pengeluaran publik pada saat mereka perlu meningkatkan pengeluaran untuk menahan pandemi dan mendukung konsumsi dan investasi.

Kepala Ekonom dan Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Pembangunan Ekonomi Elliot Harris mengatakan tujuan kolektif itu haruslah pemulihan yang tangguh yang mengembalikan planet ini ke jalur yang berkelanjutan.

“Kita tidak boleh lupa bagaimana hal itu mempengaruhi populasi yang paling rentan dan apa artinya bagi pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: COVID-19Development CountryKrisis EkonomiPertumbuhan EkonomiResesi EkonomiResesi GlobalUN-DESAUnited Nations
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.