• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Proyeksi ADB: Ekonomi Negara Berkembang di Asia Paling Terguncang Akibat Covid-19

by Redaksi Asiatoday
April 3, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Proyeksi ADB: Ekonomi Negara Berkembang di Asia Paling Terguncang Akibat Covid-19

Kekacauan transportasi di Kota Dhaka, Bangladesh. Foto : dok ADB

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank’s (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi regional negara-negara berkembang di Asia akan menurun tajam pada 2020. Penurunan ini sebagai dampak dari pandemi global wabah coronavirus (Covid-19).

Dalam laporan tahunannya, ADB memperkirakan pertumbuhan regional sebesar 2,2 persen pada 2020. Perkiraan ini merupakan revisi ke bawah sebesar 3,3 persen terhadap perkirakan ADB pada September 2019 sebesar 5,5 persen.

Pertumbuhan diperkirakan akan meningkat menjadi 6,2 persen pada 2021, dengan asumsi bahwa wabah berakhir dan aktivitas menjadi normal.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

Negara berkembang Asia kecuali Hong Kong, Korea Selatan, Singapura, dan Taipei diperkirakan akan tumbuh 2,4 persen tahun ini, dibandingkan 5,7 persen pada 2019, sebelum rebound menjadi 6,7 persen tahun depan.

“Evolusi pandemi global sangat tidak pasti. Pertumbuhan bisa menjadi lebih rendah, dan pemulihannya lebih lambat, dari yang kami perkirakan saat ini. Untuk alasan ini, diperlukan upaya yang kuat dan terkoordinasi untuk mengendalikan pandemi covid-19 dan meminimalkan dampak ekonominya, terutama pada yang paling rentan,” ujar Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada, Jumat (3/4/2020).

Di China, kontraksi tajam dalam industri, layanan, penjualan ritel, dan investasi pada kuartal I karena wabah covid-19 akan menarik pertumbuhan turun ke 2,3 persen tahun ini. Pertumbuhan akan pulih ke level di atas normal 7,3 persen pada 2021 sebelum kembali ke pertumbuhan normal.

Sementara di India, langkah-langkah untuk menahan penyebaran virus dan lingkungan global yang lebih lemah tahun ini akan mengimbangi manfaat dari pemotongan pajak baru-baru ini dan reformasi sektor keuangan.

Pertumbuhan di India diperkirakan melambat menjadi 4 persen pada tahun fiskal 2020 sebelum menguat menjadi 6,2 persen pada 2021.

ADB menilai pelemahan di Asia banyak disebabkan adalah lingkungan eksternal yang memburuk, dengan pertumbuhan mandek atau menyusut di ekonomi industri utama Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Beberapa eksportir komoditas dan minyak, seperti yang ada di Asia Tengah, akan dilanda kejatuhan harga komoditas. Harga minyak Brent diperkirakan rata-rata USD35 per barel tahun ini, turun dari USD64 pada 2019.

Semua subregional Asia yang sedang berkembang akan melihat pertumbuhan melemah tahun ini karena permintaan global yang lemah, dan di beberapa negara karena wabah domestik dan kebijakan penahanan.

Subregional yang lebih terbuka secara ekonomi seperti Asia Timur dan Tenggara, atau tergantung pariwisata seperti Asia Pasifik, akan sangat terpukul. Aktivitas ekonomi di subregional Pasifik diperkirakan akan berkontraksi sebesar 0,3 persen pada 2020 sebelum pulih menjadi 2,7 persen pada 2021.

Bagian khusus dari laporan ini menyediakan informasi terbaru tentang dampak ekonomi yang mungkin timbul dari wabah covid-19 pada negara-negara berkembang di Asia, dan pada sektor-sektor di dalam negara-negara tersebut.

Biaya global pandemi ini dapat berkisar dari USD2 triliun hingga USD4,1 triliun, setara dengan kerugian antara 2,3 hingga 4,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) global.

“Perkiraan ini, yang memperbarui penelitian ADB sebelumnya yang dirilis pada 6 Maret, mencerminkan sifat pandemi global sekarang, penggunaan luas kebijakan penahanan dan larangan perjalanan di seluruh dunia, dan data tentang bagaimana wabah memengaruhi aktivitas di China,” paparnya.

Perlu dicatat bahwa perkiraan tersebut tidak memperhitungkan faktor-faktor seperti gangguan pasokan, pengiriman uang yang terputus, biaya perawatan kesehatan yang mendesak, dan potensi gangguan keuangan, serta dampak jangka panjang pada pendidikan dan ekonomi. (ATN)

,’;\;\’\’
Tags: ADBAsia BusinessCOVID-19Krisis EkonomiPertumbuhan AsiaPertumbuhan EkonomiResesi EkonomiResesi Global
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.