• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Amerika Tuduh Komunis China Manfaatkan Isu Kematian Floyd untuk Propaganda

by Redaksi Asiatoday
June 7, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pompeo: China Punya Sejarah Menginfeksi Dunia

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo. Ist

ASIATODAY.ID, WASHINGTON – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menuduh China telah melakukan “propaganda vulgar” dengan memanfaatkan isu kematian pria kulit hitam George Floyd.

Statemen Pompeo disampaikan usai China menyindir AS atas respons Washington terhadap gelombang aksi protes mengecam kematian Floyd.

“Eksploitasi yang dilakukan Partai Komunis China atas kematian tragis George Floyd sekali lagi telah memperlihatkan sikap asli mereka,” tulis Pompeo di Twitter, dilansir dari Guardian, Minggu (7/6/2020).

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Sebelumnya, China menyindir AS dengan menggunakan kata-kata terakhir Floyd, yakni “saya tidak bisa bernapas.” Sindiran disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying via Twitter.

“Saya tidak bisa bernapas,” tulis Hua, mengutip kembali kata-kata terakhir Floyd saat lehernya ditindih seorang polisi bernama Derek Chauvin di Minneapolis.

Sindiran dilayangkan untuk membalas kritikan AS terhadap respons China dalam menangani gelombang protes pro-demokrasi di Hong Kong. AS menuding China bertindak sewenang-wenang dalam membungkam aksi para pengunjuk rasa di Hong Kong.

Dengan mengutip kata-kata terakhir Floyd, China ingin menunjukkan bahwa AS menerapkan standar ganda dalam penanganan gelombang unjuk rasa di seantero Negeri Paman Sam.

Merespons hal tersebut, Pompeo menegaskan ada perbedaan kontras antara China dan AS.

“Di China, saat dokter dan jurnalis memperingatkan bahaya penyakit baru, (Partai Komunis China) membungkam dan menghilangkan mereka. Di Amerika Serikat, kami menjunjung tinggi nyawa manusia dan sistem transparan,” tegas Pompeo.

Kematian Floyd pada 25 Mei telah memicu gelombang aksi protes masif di seantero AS dan sejumlah negara lain.

Gelombang protes masih berlangsung hingga akhir pekan ini, meski intensitasnya tidak setinggi pekan sebelumnya. (ATN)

Tags: Amerika SerikatChinaGeorge Floyd
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.