• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Google, Facebook dan Twitter Tegaskan Komitmen Tangkal Disinformasi

by Redaksi Asiatoday
June 19, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Google, Facebook dan Twitter Izinkan Karyawan Bekerja dari Rumah

Google, Facebook dan Twitter. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Para eksekutif dari Facebook Inc., Twitter Inc., dan Google menegaskan kepada anggota parlemen Amerika Serikat (AS) bahwa mereka berkomitmen memerangi disinformasi dan berita hoaks.

Ketiga perusahaan media sosial tersebut juga telah menghapus video, posting dan pesan yang dianggap palsu dan berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan, termasuk yang berkaitan dengan pemilihan umum 2020..

“Melihat ke depan untuk pemilihan umum November, kami menyadari bahwa pandemi Covid-19, aksi demonstrasi yang meluas dan peristiwa penting lainnya dapat menjadi makanan empuk kampanye disinformasi,” kata direktur penegakan hukum dan keamanan informasi Google, Richard Salgado dalam sidang Komite Intelijen DPR, Kamis (18/6/2020), seperti dikutip Bloomberg.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

Di kesempatan yang sama, kepala kebijakan keamanan siber Facebook, Nathaniel Gleicher mengatakan perusahaan telah memeriksa percakapan dari sekitar 200 pemilihan umum di seluruh dunia dan bersiap menghadapi pemilu November mendatang.

Ketika persidangan berlangsung, Facebook mengatakan mereka menghapus posting dan iklan dari tim kampanye Donald Trump yang mengaitkan segitiga terbalik dengan Antifa. Simbol tersebut pernah digunakan Nazi untuk mengidentifikasi tahanan politik

“Kami menghapus posting dan iklan ini karena melanggar kebijakan kami terhadap kebencian yang terorganisir. Kebijakan kami melarang penggunaan simbol kelompok kebencian yang dilarang untuk mengidentifikasi tahanan politik tanpa konteks yang mengutuk atau membahas simbol tersebut,” kata Facebook dalam sebuah pernyataan.

Gleicher mengatakan kepada anggota parlemen bahwa ketika Facebook melihat posting ini, perusahaan menyimpannya di dalam sistem. Jika ada posting sejenis yang muncul, Facebook dapat menemukannya dan menghapusnya secara otomatis.

Ketua Komite Adam Schiff mengagendakan sidang tersebut untuk fokus pada pengaruh aktor asing di jejaring sosial. Dia mengutip ancaman manipulasi dari Rusia, China dan Iran dan bertanya apakah perusahaan teknologi terus memantaunya.

“Sifat platform Anda, semuanya, adalah untuk merangkul dan memonetisasi kejadian viral. Semakin sensasional, semakin memecah belah, semakin mengejutkan, atau semakin emosional, semakin cepat beredar,” kata Schiff.

Layanan YouTube milik Google menghapus lebih dari 200.000 video dan lebih dari 100 juta iklan untuk membendung disinformasi dan hoaks mengenai pandemi virus corona dan mencegah pengiklan mengambil untung dari informasi tersebut.

Facebook mempekerjakan lebih dari 35.000 karyawan di bidang keselamatan dan keamanan, tiga kali lipat dari jumlah pada tahun 2017, menurut Gleicher.

Sementara itu, direktur strategi dan pengembangan kebijakan publik Twitter, Nick Pickles mengatakan perusahaan melacak ancaman disinformasi terkait dengan aksi protes rasisme dan kebrutalan polisi yang dipicu oleh kematian George Floyd di tangan polisi di Minneapolis.

“Pembicaraan publik di Twitter telah menyoroti sifat mendalam dari masalah yang terkait dengan ras, keadilan, dan kesetaraan,” kata Pickles dalam sebuah pernyataan tertulis.

“Meskipun kami belum melihat bukti upaya terpadu yang didukung negara asing untuk memanipulasi percakapan publik dalam beberapa pekan terakhir, kami tetap waspada.”

Anggota DPR dari partai Demokrat Jim Himes mengkritik algoritma Facebook karena mempromosikan polarisasi, perpecahan, dan kemarahan untuk meningkatkan engagement.

Ketika Gleicher membantah klaim itu, Himes meminta data untuk mendukung sanggahan tersebut.

Para eksekutif dari Twitter dan Facebook mengatakan bahwa aktor jahat penyebar hoaks mengembangkan taktik disinformasi mereka dari waktu ke waktu.

Twitter telah menyaksikan penggunaan media yang dikendalikan oleh negara dan akun pemerintah untuk memengaruhi pendapat AS tentang pandemi virus corona dan aksi protes.

Mereka mengambil contoh, seorang dari China membandingkan tanggapan polisi di AS mengenai protes baru-baru ini dengan tanggapan kepolisian di Hong Kong.

“Kami telah mengamati pergeseran dari manipulasi platform ke manipulasi aset negara. Kami harus selangkah lebih maju dari ini dan terus mengidentifikasi bagaimana aktor jahat mengubah perilaku mereka,” ungkap Pickles. (ATN)

Tags: FacebookGoogleTwitter
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.