• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Defisit APBN Melebar, Indonesia Siap Tambah Utang

by Redaksi Asiatoday
July 29, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Tekanan Makin Dalam, Ekonomi Indonesia Diproyeksi Minus 3,8 Persen Kuartal II

Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 dari 4,7 persen menjadi 5,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Langkah ini dilakukan dengan strategi pembiayaan salah satunya menambah porsi pinjaman atau utang.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjamin hal tersebut dilakukan secara hati-hati.

RelatedPosts

Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus

Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam

Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries

“Tambahan bantalan satu persen menjadi 5,2 persen, strategi defisit dan pembiayaan dilakukan dengan sangat hati-hati,” jelas Sri dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (28/7/2020).

Menurut Sri, pemerintah akan menggunakan sumber-sumber pembiayaan yang akan memberikan dampak stabilitas terhadap Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan.

Pemerintah juga akan mengandalkan penerbitan SBN baik di domestik maupun global, baik konvensional maupun syariah, baik retail maupun non-retail untuk mendapatkan komposisi yang terbaik.

“Tentu kita akan jaga dan Bank Indonesia (BI) sesuai SKB pertama jadi stand by buyer. Kita akan diskusi dengan BI, bagaimana BI akan tetap menjadi peserta lelang reguler atau mereka akan melakukan green shoe atau private placement,” paparnya.

Di samping penerbitan SBN, pemerintah juga akan mencari sumber pembiayaan lain baik dari bilateral maupun multilateral agar dapat dana yang relatif yang lebih murah serta mendorong produktivitas maksimal.

“Pemerintah melakukan pengelolaan dari outstanding utang secara hati-hati karena defisit meningkat debt to GDP ratio kita bisa mendekati 40 persen,” jelasnya.

Jika mengacu pada UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, rasio utang dipatok pada batas 60 persen dari PDB.

Selama ini, rasio utang memang dijaga di bawah 30 persen. Namun menurut data dari Kemenko Maritim dan Investasi, di 2020 dan 2021 dengan adanya penambahan defisit maka rasio utang terhadap PDB berada di level 37,6 persen, bahkan diprediksi meningkat ke 38,2 persen di 2022. (ATN)

Tags: Defisit APBNSri Mulyani IndrawatiUtangUtang IndonesiaUtang Luar Negeri
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.