• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Tekan Perubahan Iklim, China Tetapkan Puncak Emisi Karbon 2030

by Redaksi Asiatoday
September 24, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
China Hasilkan Emisi Karbon Dioksida Sebanyak 319 Juta Ton pada 2019

Emisi karbon dioksida, sumber polusi udara di China. Foto : in habitat

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Presiden China Xi Jinping mengumumkan target puncak emisi karbon pada 2030 dan netralitas karbon pada 2060. Xi menegaskan hal itu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut ‘polusi China yang merajalela’ dan menjadi kontributor emisi karbon terbesar di dunia.

Dalam Sidang Umum PBB, Xi mendesak seluruh negara bertindak dalam kerangka multilateral dalam menangani perubahan iklim dalam perjanjian iklim Paris.

“China akan meningkatkan kontribusi nasional terhadap perjanjian Paris dengan mengadopsi kebijakan dan tindakan yang lebih kuat,” tegas Xi dilansir dari Strait Times, Kamis (24/9/2020).

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Sementara itu, CNA melaporkan utusan iklim AS saat pemerintahan Obama, Todd Stern menilai pengumuman China adalah langkah yang menggugah.

“Pengumuman Presiden Xi Jinping soal China akan mencapai netralitas karbon sebelum 2060 adalah berita besar dan penting. Lebih cepat sekitar 2050 akan lebih baik,” katanya.

“Namun, target 2030 akan sulit terpenuhi,” katanya.

Ahli diplomasi iklim Greenpeace Li Shuo menilai keputusan Beijing sesaat setelah pidato Trump sangat berani dan terkalkulasi dengan baik.

Kedua negara, baik China maupun AS tengah dilanda cuaca ekstrem tahun ini. Di China, hujan besar sepanjang musim panas menyebabkan banjir terparah dalam tiga dekade.

Sementara AS menghadapi musim badai tersibuk pada saat kebakaran hutan melanda sebagian negara bagian barat.

Trump menyebut perubahan iklim sebagai hoax pada 2017 hingga akhirnya AS memutuskan keluar dari perjanjian iklim Paris. sementara kandidat calon Presiden Joe Biden memasukkan isu perubahan iklim ke dalam daftar krisis besar yang dihadapi AS.

Perjanjian iklim Paris merupakan persetujuan untuk mereduksi emisi karbon yang akan mulai berlaku tahun ini. Perjanjian ini difasilitasi oleh Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC pada 2015 di Paris. Sebanyak 200 negara menanda tanganinya. (ATN)

Tags: Climate ChangeDonald TrumpEmisi KarbonPerubahan IklimXi Jinping
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.