• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Efek Perubahan Iklim, Hutan Tropis dan Basah di Dunia Terancam Kebakaran

by Redaksi Asiatoday
October 2, 2020
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 3 mins read
A A
0
UNEP : Hutan Amazon Benteng Terakhir Melawan Krisis Iklim Global

Kebakaran Hutan Amazon. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Sebuah studi yang dihasilkan oleh para ilmuwan di Department of Geological Sciences mengungkap ancaman besar yang ditimbulkan oleh siklus perubahan iklim global.

Hasil riset yang ditulis F. Garrett Boudinot, Ph.D, salah satu ahli di Department of Geological Sciences, mengulas secara komprehensif pengetahuan tentang perubahan iklim yang dialami oleh planet bumi.

Dituliskan bahwa, jutaan tahun silam api melanda seluruh dataran planet Bumi, yang dipicu oleh atmosfer kaya oksigen. 

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Dalam sebuah studi, bukti geokimia menunjukkan bahwa kebakaran hutan akibat atmosfer kaya oksigen itu, meluas secara dramatis. Bahkan berpotensi membakar hingga 30 atau 40 persen hutan global selama interval 100.000 tahun lebih dari 90 juta tahun yang lalu.

Kebakaran itu tidak hanya melanda wilayah kering dan panas, namun juga mengancam di daerah basah karena adanya faktor perubahan iklim global.

Boudinot menganalisis sampel dari inti batuan yang mencakup apa yang dikenal sebagai Oceanic Anoxic Event 2 (OAE2) pada periode Cretaceous, sekitar 94 juta tahun yang lalu.

Ia menemukan bahwa peningkatan jumlah karbon yang terkubur di lautan pada awal peristiwa ini dikaitkan dengan indikasi terjadinya kebakaran hutan, yang mungkin disebabkan oleh peningkatan oksigen di atmosfer.

“Salah satu konsekuensi dari memiliki lebih banyak oksigen di atmosfer adalah lebih mudahnya membakar api,” kata Boudinot dikutip dari phys.org, Kamis (1/10/2020).

Karbon dioksida dalam kadar jumlah besar di atmosfer mungkin akan terjadi seperti yang diperkirakan terjadi di Bumi pada tahun 2100 dimana siklus ini akan dimulai.

Selama 50.000 tahun sebelum OAE2 dimulai, ganggang dan tumbuhan darat menarik karbon ini ke lautan melalui fotosintesis, menyebabkan respirasi mikroba meningkat, yang menyebabkan sebagian lautan menjadi rendah atau bahkan tanpa oksigen yang dikenal sebagai anoksia.

Di perairan anoksik jenis ini, karbon organik yang disimpan dari atmosfer terkubur dalam sedimen, sedangkan oksigen yang merupakan bagian dari karbondioksida (CO2) dilepaskan ke atmosfer.

Setelah 100.000 tahun, peristiwa anoksia samudera ini diperparah oleh suhu yang menghangat ditambah sedimen lautan di seluruh dunia telah menyimpan cukup banyak karbon organik sehingga atmosfer menjadi kaya akan oksigen sedemikian rupa sehingga dapat memfasilitasi pembakaran hingga 40 persen hutan di seluruh planet, bahkan di daerah basah dan lembab.

Planet ini sedang mengalami transformasi yang sama seperti yang terjadi pada awal siklus ini, dengan karbondioksida terakumulasi di atmosfer dan nutrisi menumpuk di laut. Jika pola yang sama ini berlanjut, sejarah dapat berulang di masa depan, hanya berabad-abad hingga ribuan tahun dari sekarang.

Sementara para ilmuwan mencurigai aktivitas vulkanik sebagai alasan ada begitu banyak karbon dioksida di atmosfer sebelum peristiwa dalam sejarah Bumi ini dimulai.

Boudinot melihat adanya hubungan dengan berapa banyak karbon dioksida yang dikeluarkan manusia saat ini.

“Temuan ini menyoroti dampak berkepanjangan dari perubahan iklim. Perubahan iklim yang kita sebabkan sekarang, bukanlah sesuatu yang jika kita tidak memperbaikinya maka cucu kita yang harus menghadapinya,” jelas Boudinot.

“Sejarah perubahan iklim dalam sejarah Bumi memberi tahu kita bahwa dampaknya benar-benar bertahan lama dan signifikan,” imbuhnya. (ATN)

Tags: Climate ChangeClimate CrisisClimate EmergencyGlobal WarmingPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.