• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Wednesday, June 17, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

China Minta AS Tinggalkan Mentalitas Perang Dingin

by Redaksi Asiatoday
October 7, 2020
in News
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Diusir Paksa China, Diplomat AS Tinggalkan Kota Chengdu

Amerika Serikat dan China. Dok

ASIATODAY.ID, TOKYO – Pemerintah China meminta Amerika Serikat (AS) untuk menanggalkan mentalitas Perang Dingin.

Beijing juga secara khusus menyoroti tuduhan-tuduhan yang dilayangkan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

“Pompeo telah berulang kali memalsukan kebohongan tentang China dan dengan jahat menciptakan konfrontasi politik,” kata Kedutaan Besar China untuk Jepang dalam sebuah pernyataan pada Rabu (7/10/2020). Pernyataan itu dirilis untuk merespons kunjungan Pompeo ke Negeri Matahari Terbit.

RelatedPosts

Asia Drives Global Aquatic Production to Record High, Powered by Aquaculture Expansion

Indonesia and Germany Deepen Strategic Partnership Amid Global Uncertainty

Student Protests Spread Across Indonesia, Pressure Mounts on Prabowo Government

Dalam kunjungan itu Pompeo menyerukan kerja sama lebih erat dengan Jepang dan negara Quad lainnya, yakni India dan Australia, untuk melawan pengaruh regional China. Pompeo ingin membentuk front persatuan guna menentang Beijing.

China bereaksi keras atas seruan Pompeo.

“Kami sekali lagi mendesak AS meninggalkan mentalitas Perang Dingin dan prasangka ideologis, menghentikan tuduhan dan serangan yang tidak beralasan terhadap China dan memperlakukan hubungan dengan China secara konstruktif,” kata Kedutaan Besar China di Jepang.

AS dan China terlibat konfrontasi di beberapa isu, seperti Hong Kong, sengketa Laut China Selatan, dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Xinjiang.

Washington adalah salah satu negara yang menentang keputusan China menerapkan Undang-Undang (UU) Keamanan Nasional untuk Hong Kong. AS menilai langkah itu telah merongrong dan menghancurkan otonomi Hong Kong.

AS juga termasuk salah satu negara di luar ASEAN yang rutin menentang klaim China atas Laut China Selatan (LCS). Penentangan dilakukan tidak hanya melalui pernyataan, tapi juga tindakan. AS kerap melakukan operasi kebebasan navigasi di wilayah perairan strategis tersebut.

China menilai operasi kebebasan navigasi itu merupakan tindakan provokatif. Ketegangan antara China dan AS di LCS masih berlangsung hingga kini. Selain itu, AS pun cukup intens menyuarakan kritik dan keprihatinan atas dugaan pelanggaran HAM Muslim Uighur di Xinjiang.

AS telah menjatuhkan sanksi kepada beberapa pejabat China yang diyakini terlibat dalam praktik pelanggaran HAM di Xinjiang. Pada 22 September lalu House of Representatives AS telah meloloskan rancangan undang-undang (RUU) berjudul The Uyghur Forced Labor Prevention Act. RUU itu mengatur tentang larangan impor produk yang berasal dari Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur, China.

RUU mencatat bahwa barang atau produk yang dibuat dengan kerja paksa adalah ilegal berdasarkan Undang-Undang Tarif tahun 1930.

“Tragisnya, hasil kerja paksa sering berakhir di sini, di toko-toko dan rumah-rumah Amerika,” kata Ketua House of Representatives AS Nancy Pelosi, dikutip laman the Straits Times.

Menurut dia, AS perlu mengirim pesan yang jelas kepada Beijing mengenai hal tersebut.

“Pelanggaran ini harus diakhiri sekarang,” ujar Pelosi.

RUU itu masih harus disahkan oleh Senat yang mungkin memiliki waktu terbatas sebelum pemilihan presiden dihelat pada 3 November.

The Uyghur Human Rights Project (UHRP) menyambut diloloskannya The Uyghur Forced Labor Prevention Act. Menurutnya, itu menjadi undang-undang nasional pertama di dunia yang menegakkan standar hak asasi manusia (HAM) untuk mengakhiri impor barang hasil kerja paksa minoritas Uyghur.

“Orang Amerika tidak ingin terlibat dalam membeli produk yang dibuat oleh Uyghur yang dikunci di pabrik kerja paksa China,” kata Direktur Eksekutif UHRP Omer Kanat dalam sebuah pernyataan, dikutip laman Radio Free Asia.

Dia mendorong Senat untuk mengambil sikap serupa dengan House of Representatives AS.

“Semua pemerintah harus memberlakukan tindakan untuk melawan kekejaman massal pemerintah Cina, yang dilakukan dalam skala yang tidak terlihat sejak Perang Dunia II,” tandas Kanat. (ATN)

Tags: Amerika SerikatChina
No Result
View All Result

Terbaru

  • Asia Drives Global Aquatic Production to Record High, Powered by Aquaculture Expansion
  • Indonesia–Germany Set to Accelerate Economic and Industrial Alliance
  • Indonesia and Germany Deepen Strategic Partnership Amid Global Uncertainty
  • Danantara Raises US$1.5 Billion as Global Investors Flock to Indonesia Bond Offering
  • SMK and Moellhausen Encourage Local Indonesian Brands Expand into Global Markets
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.