• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Mitigasi Krisis Air Bersih, Indonesia Fokus Bangun Infrastruktur Hijau

by Redaksi Asiatoday
March 23, 2021
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Mitigasi Krisis Air Bersih, Indonesia Fokus Bangun Infrastruktur Hijau

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur, infrastruktur hijau yang dibangun KemenPUPR dalam upaya menjaga ketersediaan air secara berkelanjutan. Dok KemenPUPR

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Perubahan iklim global membawa dampak besar terhadap stabilitas dan keseimbangan lingkungan di planet bumi.

Negara-negara di dunia termasuk Indonesia telah merespon tantangan ini melalui berbagai inovasi hijau dan upaya mitigasi berkelanjutan untuk mencegah ancaman dimasa depan, salah satunya ancaman krisis air bersih.

Pasalnya, krisis air bersih menjadi tantangan serius seiring meningkatnya populasi penduduk Indonesia yang kini mencapai 270,2 penduduk.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Sementara, pemenuhan kebutuhan dasar air bersih melalui perpipaan saat ini baru terealisasi 21,8 persen.

“Ini menjadi tantangan yang tidak mudah bagi pemerintah, sehingga tantangan ini tidak bisa dikesampingkan tanpa kerja sama dari seluruh stakeholder,” terang Staf khusus Menteri Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) Bidang Sumber Daya Air Firdaus Ali, Senin (22/3/2021).

Menurut Firdaus, interpretasi krisis air ini sederhana. Di saat musim hujan, terjadi surplus air sedangkan pada saat kemarau terjadi kekurangan air bersih. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan pengelolaan yang tidak baik sehingga air justru menjadi bencana.

Tantangan penyediaan air bersih selanjutnya adalah bagaimana menyeimbangkan antara kebutuhan dan ketersediaan air bersih yang ada. Hal tersebut tentu bukanlah perkara mudah mengingat kebutuhan air meningkat ketika ketersediaan air semakin terbatas akibat menurunnya kualitas air sebagai dampak dari perubahan iklim dan anomali cuaca.

“Perubahan iklim telah mengubah tatanan ketersediaan air karena gangguan pada siklus hidrologi yang kita hadapi. Kita semakin akrab dengan bencana hidrometeorologi dan ini juga tidak akan mudah bagi Indonesia untuk bisa menyelesaikan tanpa dukungan dari semua pihak,” jelas Firdaus yang juga pendiri Indonesia Water Institute (IWI).

Firdaus memandang, sebelum pandemi Covid-19, Indonesia dihadapkan pada persoalan stunting sehingga mendorong pemerintah untuk fokus menurunkan angka masalah ini.

Di saat kebutuhan air belum terpenuhi, kemudian datang pandemi Covid-19 yang juga mendorong pemerintah untuk bisa memenuhi kebutuhan air guna memutus mata rantai penyebaran virus tersebut sehingga kebutuhan air bersih menjadi meningkat 2 sampai 3 kali lipat.

Peningkatan kebutuhan air juga telah menambah spending sebesar 9 persen. Namun pada saat bersamaan, hal demikian menjadi ironi karena di saat kebutuhan masyarakat terhadap air meningkat, faktanya banyak masyarakat yang kehilangan sebagian pendapatan bahkan pekerjaan.

“Tentu sulit menerima kondisi ini. Dengan demikian, perlu kolaborasi karena tantangan tersebut menjadi tugas bersama di masa depan,” imbuhnya.

Firdaus mendorong generasi muda khususnya generasi Z yang jumlahnya mencapai 27,94 persen dari 272 juta penduduk Indonesia untuk mulai membangun kesadaran bersama dalam menghadapi tantangan ini.

“Saya yakin, pandemi Covid-19 ini adalah resetting di abad 21 di mana semua negara diberi kesempatan untuk menentukan apakah mereka mampu melakukan lompatan atau tertinggal. Inilah tantangan dan kesempatan yang kita hadapi,” ujar Firdaus.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) dalam hal ini juga mendapat amanah untuk memperkuat ketahanan air dan membangun ketahanan pangan sekaligus memastikan energi bauran akan lebih baik ke depan.

“Kita membangun infrastruktur dalam waktu yang sangat terbatas dengan jumlah yang sangat masif sekali dengan tidak lagi membangun infrastruktur yang single function, tapi kita membangun infrastruktur seperti bendungan dengan multifungsi tidak hanya menyediakan air baku, irigasi, dan budi daya perikanan serta peternakan, tetapi juga bagaimana mendapatkan energi baru terbarukan dengan menggunakan solar panel atau hal-hal lain. Sehingga kita punya kontribusi signifikan untuk mencapai target 23 persen energi bauran pada tahun 2024 mendatang,” tandasnya. (ATN)

Tags: Climate ChangeGreen IndonesiaKrisis Air BersihPerubahan Iklim
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Secures OECD Backing, Trade Gains, and Strategic Partnerships with Major Economies
  • Global Markets Warn Indonesia’s Nickel Industry: Prove It’s Green or Risk Losing Access
  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.