• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

Rusia Warning Negara Barat, Sanksi untuk Myanmar Bisa Picu Konflik Horizontal

by Redaksi Asiatoday
April 8, 2021
in News
Reading Time: 1 min read
A A
0
Darurat Setahun, Militer Kendalikan Kekuasaan di Myanmar

Gerakan protes di Myanmar. Ist

ASIATODAY.ID, MOSKWA – Rusia memperingatkan kepada negara-negara Barat bahwa menjatuhkan sanksi kepada junta militer akan memicu terjadinya konflik horizontal.

Seperti dilaporkan Reuters, Selasa (6/4/2021), peringatan itu tidak mempengaruhi Prancis yang menyatakan Uni Eropa akan meningkatkan pembatasan pada para jenderal.

Dukungan Kremlin merupakan dorongan bagi junta militer yang menggulingkan pemerintah sipil terpilih Aun San Suu Kyi pada 1 Februari. Namun, junta militer masih menghadapi kampanye demonstrasi pro-demokrasi dan pembangkangan sipil yang berkelanjutan di seluruh negeri, dan kecaman serta lebih banyak sanksi dari Barat.

RelatedPosts

Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation

Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims

No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms

“Faktanya, garis seperti itu berkontribusi untuk mengadu domba pihak satu sama lain dan pada akhirnya mendorong rakyat Myanmar menuju konflik sipil skala penuh,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia, dikutip oleh kantor berita Interfax.

Rusia adalah pemasok senjata utama ke Myanmar dan wakil menteri pertahanannya bertemu dengan pemimpin kudeta Jenderal Min Aung Hlaing di ibu kota Naypyitaw bulan lalu, menuai kritik dari aktivis hak asasi manusia.Mereka yang menuduh Moskwa melegitimasi junta.

Pada Selasa (6/4/2021), di kota utama Myanmar, Yangon, pengunjukrasa menyemprotkan cat merah ke jalan-jalan, melambangkan pertumpahan darah dalam tindakan keras oleh pasukan keamanan.

“Darahnya belum kering,” kata salah satu pesan dengan warna merah.

Kelompok advokasi Asosiasi Tahanan Politik (AAPP), sekitar 570 orang, termasuk puluhan anak-anak, telah ditembak mati oleh pasukan dan polisi dalam kerusuhan hampir setiap hari sejak kudeta, dan pasukan keamanan telah menangkap hampir 3.500 orang. (ATN)

Tags: Krisis Myanmar
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Moves to Control Global Nickel Pricing With New National Minerals Exchange
  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.