• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

EU-ABC Dorong Percepatan Cetak Biru Ekonomi ASEAN untuk Perkuat Daya Saing Global

by Redaksi Asiatoday
June 2, 2021
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
EU-ABC Dorong Percepatan Cetak Biru Ekonomi ASEAN untuk Perkuat Daya Saing Global

EU-ASEAN Business Council (EU-ABC). Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – EU-ASEAN Business Council (EU-ABC) menyoroti  lambatnya perkembangan cetak biru ekonomi ASEAN yang bisa berdampak terhadap munculnya risiko jangka panjang.

Dalam laporannya yang terbaru, EU-ABC mengimbau lanjutan perkembangan agenda perekonomian regional ASEAN dan menghubungkan antara daya tahan pemulihan pandemi dengan para Pemimpin serta Menteri Perdagangan dan Keuangan ASEAN, untuk secara spesifik mengakselerasi perkembangan ASEAN Economic Community (AEC).

EU-ABC, yang mewakili kepentingan komunitas bisnis Eropa di seluruh kawasan Asia Tenggara, mengutip keprihatinan akan minimnya perkembangan faktor-faktor utama integrasi ekonomi ASEAN di bawah naungan AEC, khususnya dalam agenda penghapusan hambatan non-tarif untuk perdagangan.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Dalam laporan tersebut, EU-ABC juga mencatat bahwa bahkan sebelum COVID-19, telah terlihat penurunan investasi asing langsung (foreign direct investment) dan penurunan perdagangan di ASEAN.

COVID-19 hanya memperburuk kondisi tersebut, sehingga terdapat kebutuhan mendesak untuk mempercepat integrasi ekonomi regional guna membantu pemulihan ekonomi dari pandemi.

Sehubungan dengan itu, EU-ABC mengimbau tindakan yang lebih koheren, gesit dan transparan untuk membantu pemulihan ekonomi ASEAN dan meningkatkan daya tarik untuk investasi.

“ASEAN memiliki peluang besar dalam beberapa tahun mendatang untuk menjadi peserta dan kontributor yang lebih signifikan bagi ekonomi global, jika kawasan tersebut dapat terus membangun kemajuan nyata dalam agenda integrasi ekonomi mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, ASEAN perlu mengatur ulang cara mereka menangani hambatan perdagangan non-tarif. Pengaturan ulang tersebut adalah kunci untuk memperlancar arus barang, meningkatkan daya saing ASEAN, dan menciptakan lingkungan investasi yang lebih baik,” kata Donald Kanak, Chairman EU-ABC melalui keterangan tertulisnya, Rabu (2/5/2021).

Menurut Donald, langkah-langkah tersebut merupakan faktor kunci untuk memanfaatkan kekuatan gabungan dari kesepuluh ekonomi ASEAN – dengan kedinamisan dan skala pasar yang berpenduduk 650 juta jiwa – agar mereka dapat bersaing secara efektif dengan wilayah lainnya.

“Dengan bekerja sama secara lebih kohesif dan memenuhi janji-janji yang dibuat dalam cetak biru AEC, wilayah ASEAN akan pulih lebih cepat dari pandemi dan pemulihan tersebut akan dapat bertahan lama,” imbuhnya.

Chris Humphrey, Executive Director EU-ABC menambahkan: “Kami melihat tanda-tanda yang jelas bahwa bisnis mulai kehilangan kesabaran dengan proyek integrasi ekonomi ASEAN yang kemajuannya sangat lambat. Hambatan non-tarif dalam perdagangan tetap menjadi penghalang utama bagi pembangunan berkelanjutan di ASEAN, meskipun para pemimpin dan menteri ASEAN pernah menyatakan bahwa berbagai hambatan tersebut perlu dihapus. Pengendalian kuantitas dan harga secara khusus tetap berlaku, mengurangi persaingan dan inovasi di wilayah tersebut sehingga merugikan bisnis lokal dan populasi secara menyeluruh.”

Dalam laporan tersebut, EU-ABC menganggap bahwa hal-hal berikut menghambat kemajuan integrasi ekonomi:

– Kurangnya komitmen atau ketidakmampuan untuk memenuhi janji-janji yang tercantum dalam cetak biru ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015 dan 2025;

– Target yang ditetapkan oleh ASEAN seringkali terlewat, khususnya komitmen untuk mengatasi permasalahan hambatan non-tarif untuk perdagangan yang terkekang oleh proses-proses dan alat-alat yang tidak efektif;

– Perjanjian fasilitasi perdagangan yang telah ditetapkan sebelumnya, seperti Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN (ASEAN Trade in Goods Agreement, ATIGA), tetap harus dilaksanakan atau ditaati sepenuhnya;

– Wilayah tersebut terus menambahkan ide-ide dan program baru seperti dalam bidang transformasi digital, tetapi terus-menerus gagal mewujudkan ide-ide dan program yang sudah disepakati.

Konsekuensi dari kurangnya perkembangan ASEAN dalam bidang-bidang tersebut adalah bahwa sebagian besar perusahaan multinasional (serta UKM regional) melihat kesepuluh pasar ASEAN tersebut secara individual, sehingga mereka berfokus pada satu atau beberapa pasar yang paling penting atau menarik bagi mereka, dan tidak menangani wilayah tersebut secara menyeluruh sebagai satu kawasan utuh. Konsekuensi yang lebih signifikan adalah bahwa pemulihan berkelanjutan dari pandemi sangat bergantung pada perkembangan ASEAN dalam bidang-bidang tersebut.

“Pandemi ini menawarkan kepada ASEAN sebuah tantangan dan kesempatan untuk “mengatur ulang” pendekatan mereka terhadap integrasi ekonomi. Lebih banyak urgensi, komitmen, dan sumber daya sangat dibutuhkan guna membangun jadi cetak biru AEC dan mewujudkan potensi besar wilayah tersebut. Bisnis-bisnis perlu memainkan peran mereka dengan mengidentifikasi hambatan dan kemudian mengeksekusi dengan menyediakan lebih banyak pekerjaan, lebih banyak perdagangan, dan lebih banyak investasi setiap kali hambatan dihapus,” tutup Chris Humphrey. (AT Network)

Tags: Asean TradeASEAN Trade in Goods AgreementASEAN-EU Free Trade AgreementEU-ASEAN Business Council
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.