ASIATODAY.ID, JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) terus memacu pertumbuhan lini bisnis infrastruktur pada tahun-tahun mendatang. Langkah ini untuk menjaga sinergitas dengan Pemerintah Indonesia yang fokus pada sektor infrastruktur hingga 2024.
“Tiap tahun Indonesia bangun infrastruktur itu Rp400 triliun-Rp500 triliun, artinya Pemerintah benar-benar serius menurut hemat kami,” kata Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto dalam saat Public Expose di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (26/8/2019).
Kebutuhan dana untuk merampungkan seluruh rencana proyek infrastruktur nasional tersebut tidak akan bisa rampung hanya dengan mengandalkan APBN. Prijono memastikan Astra Group, sebagai pihak swasta, bakal ikut ambil bagian seperti yang telah dilakukan di proyek jalan tol trans Jawa.
“Sejauh ini kami terus berupaya berkontribusi dengan mengakuisisi enam jalan tol. Kami punya ruas jalan tol sepanjang 350 km yang akan beroperasi akhir tahun ini,” ujarnya.
Selain jalan tol, Astra International juga bakal masuk di sektor energi melalui entitas anak, PT United Tractors Tbk. Saat ini, proyek infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terbaru di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, akan beroperasi sesuai rencana pada April 2021.
PLTU Jawa 4 yang dikelola konsorsium PT Bhumi Jati Power (BJP) dengan komposisi kepemilikan saham Sumitomo Corporation 50 persen United Tractors 25 persen dan The Kansai Electric Power 25 persen. Total investasi untuk proyek pembangkit dengan kapasitas 2×1.000 MW tersebut tercatat senilai USD4,2 miliar.
“Kami tertarik untuk masuk ke infrastruktur karena kami butuh investasi lebih giat lagi karena nggak bisa semua di-handle oleh Pemerintah,” ungkapnya.
Adapun Astra International menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk tahun ini sebesar Rp30 triliun. Sebagian besar penggunaan belanja modal tersebut akan digunakan untuk belanja modal anak usaha.
Prijono mengatakan Astra international akan menyuntikkan belanja modal kepada beberapa anak usahanya. United Tractors akan memperoleh sekitar Rp15 triliun, Astra Agro Lestari sebesar Rp1,7 triliun, dan Astra Otoparts sebanyak Rp2,5 triliun. Kebutuhan belanja modal tersebut bisa terpenuhi dari kas internal. Sejauh ini perusahaan belum perlu berutang untuk belanja modal tersebut.
“Dana belanja modal dari kas internal karena cashflow kami kuat. Tapi bukan berarti saya tidak mau utang, kalau nanti ada sesuatu yang bagus kenapa tidak,” tandasnya. (AT Network)
,’;\;\’\’
