ASIATODAY.ID, JENEWA – Perubahan iklim global telah menciptakan malapetaka bagi penghuni planet bumi. Selain bencana alam, penduduk bumi juga menghadapi krisis air bersih yang mengerikan.
Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bertajuk “The State of Climate Services 2021: Water,” menyatakan 3,6 miliar orang secara global tidak memiliki akses yang memadai ke air bersih setiap bulan selama tahun 2018. Pada tahun 2050, jumlah ini diperkirakan akan melebihi 5 miliar orang.
Badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyerukan kepada seluruh pemimpin dunia untuk mengambil langkah mitigasi perubahan iklim guna mencegah risiko global bencana terkait air ini, mulai dari banjir hingga kekeringan ekstrem.
“Situasinya semakin memburuk dengan fakta bahwa hanya 0,5% air di Bumi yang dapat digunakan dan tersedia air tawar,” demikian laporan itu dikutip Kamis (7/10/2021).
Data WMO menunjukkan frekuensi ancaman yang berhubungan dengan air telah meningkat selama 20 tahun terakhir. Sejak tahun 2000, bencana terkait banjir telah meningkat sebesar 134% dibandingkan dengan dua dekade sebelumnya, sementara pada periode yang sama jumlah dan durasi kekeringan juga meningkat sebesar 29%.
Sebagian besar kematian terkait kekeringan terjadi di Afrika, menunjukkan perlunya sistem peringatan menyeluruh yang lebih kuat untuk kekeringan di wilayah itu. Sebagian besar kematian terkait banjir dan kerugian ekonomi tercatat di Asia, sementara Afrika paling banyak dilanda kematian terkait kekeringan.
“Peningkatan suhu mengakibatkan perubahan curah hujan global dan regional, yang menyebabkan pergeseran pola curah hujan dan musim pertanian, dengan dampak besar pada ketahanan pangan dan kesehatan manusia dan kesejahteraan,” kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas.
Tahun lalu, dunia menyaksikan kelanjutan dari peristiwa terkait air yang ekstrem, yang menggusur jutaan orang dan membunuh ratusan orang di seluruh Asia. Sementara di Afrika, menurut ketua WMO, lebih dari dua miliar orang masih tinggal di negara-negara yang kekurangan air dan menderita kekurangan akses ke air minum dan sanitasi yang aman.
Menggarisbawahi peran penting pengelolaan sumber daya air dalam mengurangi bencana terkait air, WMO merekomendasikan bahwa negara-negara, terutama negara-negara kepulauan kecil berkembang dan negara-negara kurang berkembang, harus segera meningkatkan investasi dalam pengelolaan sumber daya air terpadu dan dalam sistem peringatan dini kekeringan dan banjir.
WMO juga mendesak negara-negara untuk mengisi kesenjangan kapasitas dalam mengumpulkan data untuk variabel hidrologi dasar, yang mendukung layanan iklim dan sistem peringatan dini.
Selain itu, WMO juga mengajak pemangku kepentingan tingkat nasional untuk bersama-sama mengembangkan dan mengoperasionalkan layanan iklim dengan pengguna informasi untuk lebih mendukung adaptasi di sektor air. (ATN)
