• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Sri Lanka Buka Peluang Impor Sawit dari Indonesia

Duta Besar RI dan Mendag Sri Lanka Dorong Dimulainya Perundingan Dagang

by Redaksi Asiatoday
February 14, 2022
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Tunda Pungutan CPO dan Produk Turunannya

Sawit Indonesia. Ist

ASIATODAY.ID, COLOMBO – Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Sri Lanka, Dewi Gustina Tobing dan Menteri Perdagangan Sri Lanka, Bandula Gunawardane, sepakat untuk mendorong segera dimulainya perundingan Preferential Trade Agreement ​​(PTA) antara kedua negara.

Hal ini dinyatakan dalam pertemuan antara keduanya di kantor Menter Perdagangan Sri Lanka (11/02/2022).

Perundingan PTA dinilai akan membuka jalan bagi banyak manfaat untuk peningkatan hubungan kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Dengan adanya PTA, nantinya diharapkan semakin banyak produk-produk Indonesia yang dapat masuk ke pasar Sri Lanka.

“Hal ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik Sri Lanka, namun juga memaksimalkan potensi Sri Lanka sebagai hub perdagangan serta sebagai bagian dari perjanjian perdagangan bebas di kawasan Asia,” jelas Dubes Dewi Tobing, dikutip Senin (14/2/2022).

Terkait dengan kebijakan Sri Lanka yang membatasi dan melarang impor produk non-esensial ke Sri Lanka, Dubes RI mendorong Pemerintah Sri Lanka untuk mempertimbangkan mengangkat kebijakan tersebut sehingga tidak menghambat arus perdagangan antara kedua negara.

Menteri Bandula menyampaikan bahwa pelarangan dan pembatasan impor tersebut hanya diterapkan untuk sementara waktu dan diharapkan dapat diangkat dalam waktu segera.

Keduanya juga membahas upaya peningkatan perdagangan yang dapat diperkuat melalui skema joint venture dan investasi.

Secara khusus Dubes RI meminta akses yang lebih terbuka bagi produk kelapa sawit ke Sri Lanka dan sebagaimana halnya Sri Lanka yang memberi perhatian kepada lingkungan berkelanjutan, Dubes RI menekankan bahwa pertanian dan perkebunan Indonesia menerapkan standar ramah lingkungan dan memberlakukan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk produk kelapa sawit.

Mendag Bandula menyambut hal tersebut dengan menyatakan keinginan untuk mengimpor kelapa sawit dari Indonesia dengan skema kredit.

Dubes RI menyatakan akan menindak lanjuti hal tersebut dengan pihak-pihak terkait di Indonesia termasuk dengan EXIM Bank. Pola skema kredit juga akan dijajaki untuk produk-produk lainnya.

Selain perdagangan barang, Menteri Bandula juga menyampaikan potensi kerja sama di bidang Information and Communication Technology (ICT) dengan sejumlah institusi di Indonesia.

Menurut Bandula, Sri Lanka unggul di bidang ICT, yang merupakan salah satu sumber pendapatan utama negaranya.

Menteri Bandula juga siap memberikan sejumlah beasiswa bagi pelajar Indonesia untuk belajar di Sri Lanka di bidang ICT.

Dubes Dewi menyambut baik tawaran kerja sama ini dan akan meneruskan ke pihak terkait di Indonesia.

​Dubes Dewi selanjutnya mendorong Menteri Bandula untuk berkunjung ke Indonesia guna menindaklanjuti potensi kerjasama perdagangan antara kedua negara.

Menteri Bandula menyambut baik usulan tersebut dan mempertimbangkan untuk melakukan kunjungan ke Indonesia pada tahun ini dengan membawa delegasi bisnis Sri Lanka.

Di tahun 2021, nilai ekspor Indonesia mengalami kenaikan sebesar 42,83% dibandingkan tahun 2020.

“Indonesia berpeluang untuk meningkatkan ekspor ke Sri Lanka untuk consumer goods maupun untuk industrinya. Saat ini produk-produk intermediate, setengah jadi dan hampir jadi mempunyai peluang yang besar untuk memenuhi kebutuhan industri Sri Lanka. Saya sudah bicara dengan beberapa pengusaha di Sri Lanka dan sedang kita jajagi produk-produk yang dibutuhkan oleh Sri Lanka,” pungkas Dubes Dewi.​ (ATN)

Tags: Asia TradeKerjasama Indonesia - Sri LankaSawit Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.