• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Awalnya Menolak, Minyak Sawit (CPO) Indonesia Kini Diburu oleh Uni Eropa

by Redaksi Asiatoday
March 30, 2022
in Business
Reading Time: 1 min read
A A
0
Indonesia Tunda Pungutan CPO dan Produk Turunannya

Sawit Indonesia. Ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Krisis energi dunia dan kenaikan harga minyak nabati global membuat produk minyak sawit Indonesia (CPO) kini diburu oleh Uni Eropa (UE).

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga, Uni Eropa kini mulai meminta pasokan minyak sawit (CPO) dari Indonesia.

Namun, para produsen sawit Indonesia menolak lantaran Uni Eropa telah menetapkan kebijakan diskriminatif terhadap sawit Indonesia.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

“Dulu Uni Eropa sangat membenci sawit Indonesia, sekarang mereka sudah minta-minta. Mereka dulu yang membenci sawit kita, sekarang sudah mengemis untuk bisa mendapatkan sawit,” kata Sahat di forum Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR, Rabu (30/3/2022).

Seperti diketahui, Uni Eropa telah menetapkan kebijakan yang mendiskriminasi sawit Indonesia melalui aturan Renewable Energy Directive (RED) II serta Delegated Regulation sejak 2018.

Menurut Sahat, para pelaku usaha sawit sekarang bersikap tegas menolak permintaan Uni Eropa dan lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saat ini.

“Dari dulu mereka mencaci maki kita saja, sebagai bangsa kita harus punya nyali,” tegas Sahat.

Sahat menuturkan, ke depan pemerintah harus memiliki regulasi yang bisa membuat harga sawit di dalam negeri lebih rendah dibandingkan negara produsen sawit lainnya.

Dengan begitu, para investor pun akan datang dan menambah tingkat produksi sawit Indonesia.

Dengan harga yang lebih bersaing, tentunya investor pun akan mendapatkan keuntungan lebih jika mengekspor dan Indonesia mendapatkan manfaat dari pajak ekspor.

“Pajak kita dapat, serapan tenaga kerja dapat, bisnis pun kita dapat,” jelasnya.

Produksi CPO tahun ini diproyeksi mencapai 49 juta ton. Namun, dari total produksi itu, pasar domestik hanya menyerap sekitar 36 persen atau sekitar 19 juta ton sedsangkan sisanya diserap oleh pasar ekspor.

Adapun khusus untuk kebutuhan produksi minyak goreng diperkirakan hanya sekitar 4,9 juta ton. (ATN)

Tags: CPOCpo IndonesiaKerjasama Indonesia-Uni EropaSawit Indonesia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.