ASIATODAY.ID, JAKARTA – Nilai residensial di Asia Pasifik turun drastis pada kuartal pertama 2022 setelah tahun lalu harga perumahan sempat mencapai puncak.
Harga rumah yang dibangun pengembang swasta mulai turun di Sydney dan Hong Kong, sementara nilai residensial di Singapura hampir tidak naik pada kuartal pertama tahun ini, karena pembeli yang waspada terhadap kenaikan suku bunga dan hambatan ekonomi memilih untuk menahan diri.
Tahun lalu biaya pinjaman rendah dan ketakutan akan kehilangan selama pandemi mendorong hiruk-pikuk properti global mulai dari Toronto hingga Auckland.
Harga rumah di Sydney melonjak hampir 27 persen tahun lalu, sementara nilai di Singapura melonjak paling tinggi dalam lebih dari satu dekade, sedangkan residensial di Hong Kong tetap menjadi tempat paling sulit dijangkau karena harganya yang sangat mahal.
Dikutip dari Bloomberg, Kamis (14/4/2022), berbagai hal yang menyebabkan sehingga harga perumahan di beberapa kota utama di Asia Pasifik turun drastis sepanjang kuartal pertama 2022. Kekhawatiran atas keterjangkauan mendorong Singapura untuk memberlakukan pembatasan properti, sementara risiko inflasi membuat bank sentral berbagai negara mempertimbangkan kenaikan suku bunga yang akan mempersulit pembeli rumah untuk membayar hipotek mereka.
Di China, Covid-19 menambah hambatan di pasar real estat. Hong Kong bersaing dengan eksodus penduduk menyusul upayanya yang gagal untuk menahan gelombang virus Covid terbaru, sementara penguncian di Shanghai akibat gelombang baru Covid menghancurkan harapan pemulihan cepat dari kemerosotan yang dipicu oleh tindakan keras terhadap utang yang berlebihan pada pengembang.
Victoria Garrett, Kepala Residensial Asia Pasifik di konsultan properti Knight Frank, menerangkan bahwa sejak krisis keuangan global, pemerintah di kawasan itu lebih waspada terhadap kenaikan harga aset, sementara pandemi emperlebar kesenjangan kekayaan.
Dia memprediksi untuk tahun ini, harga perumahan di seluruh Asia Pasifik diproyeksikan tumbuh pada tingkat yang lebih ringan dan lebih berkelanjutan dari 3 persen hingga 5 persen, lebih rendah daripada kenaikan 9,1 persen tahun lalu. (ATN)
