• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Darurat Iklim, Vanuatu Hadapi Ancaman Kenaikan Permukaan Laut

Vanuatu butuh USD1,2 Miliar untuk mitigasi dampak Pemanasan Global

by Redaksi Asiatoday
May 29, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Darurat Iklim, Vanuatu Hadapi Ancaman Kenaikan Permukaan Laut

Negeri Vanuatu. Dok

ASIATODAY.ID, PORT VILA – Vanuatu, negara di kawasan Pasifik berada dalam situasi darurat iklim dan kini menghadapi ancaman naiknya permukaan air laut.

Parlemen dan Perdana Menteri negara pulau dataran rendah itu menyatakan  membutuhkan biaya USD1,2 miliar untuk menangani dampak pemanasan global.

Berbicara kepada parlemen di Port Vila, Perdana Menteri Bob Loughman mengatakan, kenaikan permukaan air laut dan cuaca buruk telah mempengaruhi kawasan Pasifik secara tidak proporsional, menyoroti dua topan tropis yang menghancurkan dan kekeringan yang melanda dalam dekade terakhir.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

“Bumi sudah terlalu panas dan tidak aman,” kata Loughman.

“Kami dalam bahaya sekarang, bukan hanya di masa depan,” ujarnya dikutip dari Aljazeera.

Parlemen dengan suara bulat mendukung mosi pada hari Jumat (27/5/2022), dan mengikuti deklarasi darurat iklim serupa oleh puluhan negara lain, termasuk Inggris, Kanada dan tetangga Pasifik Selatan Fiji.

“Tanggung jawab Vanuatu adalah mendorong negara-negara yang bertanggung jawab untuk menyesuaikan tindakan dengan ukuran dan urgensi krisis,” kata Loughman.

“Penggunaan istilah darurat adalah cara untuk menandakan perlunya melampaui reformasi seperti biasa.”

Deklarasi darurat iklim tersebut merupakan bagian dari “dorongan diplomasi iklim” menjelang pemungutan suara PBB tentang aplikasi pemerintahnya agar Mahkamah Internasional bergerak untuk melindungi negara-negara yang rentan dari perubahan iklim.

Tahun lalu, negara berpenduduk sekitar 300.000 itu mengatakan akan mencari pendapat hukum dari salah satu otoritas peradilan tertinggi di dunia untuk mempertimbangkan krisis iklim.

Meskipun pendapat hukum oleh pengadilan tidak akan mengikat, Vanuatu berharap itu akan membentuk hukum internasional untuk generasi mendatang tentang kerusakan, kerugian, dan implikasi hak asasi manusia dari perubahan iklim.

Dia juga menguraikan peningkatan komitmen negara itu terhadap kesepakatan Paris yang akan dicapai pada tahun 2030 dengan biaya setidaknya USD1,2 miliar, dalam rancangan rencana yang terutama berfokus pada adaptasi perubahan iklim, mengurangi dampaknya, dan menutupi kerusakan.

“Sebagian besar dana akan diminta dari negara-negara donor,” katanya.

Pada April 2020, Topan Tropis Harold menghantam Vanuatu dan menghancurkan resort wisata di negara kepulauan Pasifik Selatan lainnya, dimana Tonga, memperpanjang jejak kehancuran selama seminggu di empat negara pulau, dengan lebih dari puluhan orang tewas.

Pada tahun 2015, sekitar 64 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara itu musnah akibat serangan topan, menyebabkan kerugian ekonomi hampir USD450 juta.

Pada 2019, Vanuatu mempertimbangkan tindakan hukum terhadap pencemar hidrokarbon besar yang jaraknya ribuan kilometer di tengah efek kenaikan suhu laut, topan yang intens, dan pola cuaca yang tidak menentu. (ATN)

Tags: Pemanasan GlobalPerubahan IklimVanuatu
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.