• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Darurat Bencana Iklim, Saatnya Negara-negara G20 Stop Solusi Palsu 

by Redaksi Asiatoday
November 10, 2022
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Negara-negara Eropa Akhirnya Kembali ke Batu Bara karena Krisis Energi

Emisi karbon dari Pembangkit batu bara. Dok

ASIATODAY.ID, DENPASAR – Negara-negara G20 didesak untuk mengambil langkah nyata dalam mitigasi darurat iklim global.

Para pemimpin negara G20 harus serius melakukan transisi energi terbarukan dan berkeadilan.

“Berbagai bencana ekologi akibat krisis iklim yang melanda dunia termasuk Indonesia, harus menjadi peringatan bagi pemimpin negara-negara G20 untuk menghentikan solusi palsu terkait krisis iklim,” ujar Financial Campaigner 350 Indonesia Suriadi Darmoko, Sabtu (22/10/2022).

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Di Indonesia, bencana iklim terjadi hampir di seluruh wilayah, termasuk Bali.

Menurut catatan dari BMKG, hujan ekstrem terjadi pada 22 titik penakar hujan di Provinsi Bali dengan nilai berkisar antara 105 mm/hari hingga 344 mm/hari.

Rekor baru curah hujan harian tertinggi tercapai pada 17 Oktober 2022 di beberapa titik pos hujan seperti Palasari, Nusasari, Yehembang Kangin, Jatiluwih, Payangan, Besakih, dan Abang.

Sementara itu, kejadian hujan yang merupakan perulangan dari kejadian ekstrem pada tahun-tahun sebelumnya terjadi di 14 pos hujan lainnya

“Penggunaan energi fosil sebagai penyebab krisis iklim harus segera dihentikan, jika kita ingin bencana-bencana akibat krisis iklim ini tidak semakin meluas,” tegasnya.

“Apalagi di KTT G20 dengan jelas menyebutkan transisi energi berkelanjutan sebagai salah satu isu utamanya,” imbuhnya.

Sayangnya, lanjut Suriadi Darmoko, dalam komunike di level menteri, G20 gagal mencapai kesepakatan.

“Saat ini justru ada informasi bahwa mekanisme kerjasama transisi energi berkeadilan (Just Energy Transition Partnership – JETP) untuk Indonesia akan diluncurkan di KTT G20,” jelasnya.

”Pertanyaan berikutnya adalah apakah JETP ini nantinya akan mendorong transisi energi yang berkeadilan secara sejati, atau justru hanya akan dimanfaatkan untuk mendorong solusi-solusi palsu yang tidak menjawab tantangan krisis iklim dan kerusakan lingkungan dampak dari energi fosil,” paparnya.

Menurut Suriadi Darmoko, salah satu kekhawtiran yang mendasar dari skema JETP dan juga skema pendanaan transisi energi lainnya adalah transparansi.

“Ketiadaan transparansi dalam proses JETP untuk Indonesia itu membuat minimnya keterlibatan masyarakat,” tegasnya.

”Tanpa keterlibatan masyarakat, JETP berpotensi akan memasukan solusi-solusi palsu yang selain tidak ramah lingkungan hidup juga tidak berkeadilan,” imbuhnya.

Pemerintah Indonesia sendiri sebagai tuan rumah KTT G20, lanjutnya, tidak begitu serius melakukan transisi energi terbarukan yang berkeadilan.

“Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) misalnya, justru mewacanakan penggunaan energi yang mereka bikin label hijau, tapi masih berbasiskan batu bara dan energi fosil lainnya. Padahal itu hanya sekedar upaya untuk mempertahankan penggunaan energi fosil yang selain sudah hampir habis juga merusak alam,” urainya.

Sementara itu, Indonesia Team Lead 350, Firdaus Cahyadi menyerukan agar mekanisme pendanaan apapun termasuk JETP, yang rencananya akan diluncurkan di KTT G20, tidak akan mengakomodasi solusi palsu.

“Apapun skema pendanaannya, harus benar-benar mampu mengakhiri penggunaan energi fosil, serta harus berkeadilan bagi masyarakat rentan dan menjunjung tinggi transparansi,” tegasnya.

Hal ini sejalan dengan desakan koalisi masyarakat sipil di mana 350 juga tergabung di dalamnya.

“Proses perencanaan dan implementasi transisi energi untuk mitigasi krisis iklim harus menekankan pada prinsip transparansi, akuntabilitas, dan keterlibatkan masyarakat terdampak,” tandasnya. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Bencana iklimKrisis IklimKTT G20
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.