• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Saturday, June 6, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Pembuangan Air Limbah Nuklir Jepang Ancam Kehidupan Nelayan Lokal

by Redaksi Asiatoday
March 13, 2023
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Publik Jepang Tolak Rencana Pembuangan Air Limbah Radioaktif ke Laut

Tangki-tangki besar yang menyimpan air limbah radioaktif yang terkontaminasi di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi di Prefektur Fukushima, Jepang. Foto Xinhua

ASIATODAY.ID, SOMA – Saat Jepang tetap bersikeras membuang berton-ton air limbah yang terkontaminasi nuklir dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi yang rusak ke Samudra Pasifik pada musim semi atau musim panas, penduduk setempat, terutama mereka yang bekerja di industri perikanan, meyakini bahwa mata pencaharian mereka akan kembali hancur.

Operator PLTN tersebut, Tokyo Electric Power Company (TEPCO), berulang kali mengklaim bahwa air olahan tersebut diencerkan dengan standar keamanan nasional, dan tidak ada pilihan lain selain melepasnya ke laut lantaran ruang penyimpanan telah mencapai kapasitasnya.

“Kami sangat menentang pelepasan itu,” ungkap Toshimitsu Konno, kepala Asosiasi Koperasi Perikanan Futaba Soma di Prefektur Fukushima.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

“Mereka mengatakan semua pembangkit listrik tenaga nuklir akan membuang air olahan ke laut, tetapi jenis airnya berbeda. Kali ini air yang terkontaminasi, tetapi bukan air dari pembangkit (kondisinya) yang normal.”

Kelompok tersebut, yang terdiri dari 846 anggota, merupakan kelompok terbesar di prefektur yang ada di bagian timur laut Jepang itu.

“Saya sama sekali tidak percaya pada TEPCO, karena selama ini terlalu banyak informasi yang disembunyikan,” ujar Konno, seraya menambahkan bahwa ada sejumlah preseden tentang kebocoran air yang terkontaminasi nuklir.

Diguncang oleh gempa bermagnitudo 9,0 dan disusul tsunami yang melanda wilayah timur laut Jepang pada 11 Maret 2011, pembangkit listrik itu mengalami kebocoran inti, mengakibatkan kecelakaan nuklir level 7, tingkat tertinggi pada Skala Kejadian Nuklir dan Radiologi Internasional.

PLTN tersebut menghasilkan air yang tercemar zat radioaktif dalam jumlah sangat besar dari pendinginan bahan bakar nuklir di bangunan-bangunan reaktor, yang kini disimpan dalam sekitar 1.000 tangki penyimpanan di PLTN itu. Air dengan kandungan radioaktif tinggi akan terus diproduksi, karena TEPCO belum menemukan solusi untuk memindahkan inti-inti yang bocor itu.

Dua belas tahun setelah insiden pada 2011 itu membuat industri perikanan di Fukushima trauma, para nelayan setempat masih berjuang untuk pulih.

“Penduduk setempat masih bekerja sangat keras untuk menghidupkan kembali perikanan Fukushima. Semua upaya tersebut akan sia-sia jika bahkan satu dari jutaan ikan yang ditangkap ditemukan melebihi batas radioaktif,” sebut Kenichi Oshima, seorang profesor di Universitas Ryukoku.

Menurut Konno, hasil tangkapan di wilayah itu kini hanya setara dengan 20 persen volume sebelum gempa 2011, meski harga ikan sudah pulih 70 hingga 80 persen dari harga sebelum gempa. Membuang air yang terkontaminasi akan semakin merusak reputasi produk perikanan lokal, meski telah dilakukan pengujian zat radioaktif dengan standar yang jauh lebih ketat untuk membuktikan keamanannya.

“Begitu air yang terkontaminasi dibuang, upaya kami selama satu dekade harus dimulai dari awal lagi,” ujarnya.

Di mata pria berusia 64 tahun itu, pemerintah Jepang dan TEPCO hanya mengingkari janji mereka sebelumnya kepada penduduk setempat dengan langkah-langkah agresif seperti itu.

“Perjanjian paling penting yang mereka buat dengan kami adalah tidak melanjutkan pembuangan tanpa kesepahaman dengan kami masyarakat yang terlibat,” tuturnya kepada Xinhua.

Dalam konferensi pers pada awal bulan ini, ketika ditanya tentang apakah rencana pembuangan akan ditunda jika gagal mendapatkan kesepahaman penuh dari pihak-pihak terkait, Junichi Matsumoto, corporate officer TEPCO, mengelak dari pertanyaan itu dengan menjawab bahwa “upaya berkelanjutan” akan dilakukan untuk “meredakan kekhawatiran” dan “meminta kesepahaman.”

“Kesepahaman harus diberikan oleh siapa, dalam bentuk apa, dan dengan kriteria apa? Sampai sekarang masih belum ada yang dapat menjawabnya,” ungkap Konno. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: FukushimaLimbah NuklirNuklirPembangkit Listrik Tenaga NuklirPLTN
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.