• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Tekan Emisi Karbon, Industri Baja di Indonesia Gagas Forum Bersama

by Redaksi Asiatoday
May 10, 2023
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Imbas Kebijakan Pemerintah Indonesia, Puluhan Industri Peleburan Baja Lumpuh

Industri Peleburan Baja di Indonesia. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Industri baja menjadi penyumbang emisi karbon yang cukup signifikan.

Untuk menekan hal itu, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP) bersama Tata Metal Lestari mengagas forum bersama antara pelaku industri dan regulator untuk membahas segala upaya penurunan emisi karbon. Kedua perusahaan menginisiasi pembentukan sebuah ekosistem rantai nilai dari beberapa industri baja pelat dari hulu hingga hilir. Para pelaku industri ini berkomitmen menjalankan industri yang peduli terhadap lingkungan.

Sebagai langkah awal, digelar Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan para pemangku kepentingan terkait antara lain Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kadin Net Zero Hub, World Resources Institute, Universitas Indonesia serta beberapa mitra lain.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

“Kami mengapresiasi langkah awal ini yang dilakukan oleh GRP bersama dengan TML. Pemerintah maupun sektor swasta memiliki tanggung jawab yang sama dan seimbang, dalam usaha mencapai emisi nol sehingga sinergi berbagai pihak seperti ini sangat dibutuhkan, Kami harap inisiatif ini dapat menjadi percontohan bagi perusahaan-perusahaan lain di Indonesia, sehingga secara bersama kita dapat mendukung target pemerintah dalam mencapai net zero emissions pada tahun 2060 nanti,” jelas Muhammad Yusrizki, Ketua Kadin Net Zero, dikutip dari siaran pers, Rabu (10/5/2023).

Forum yang ditandai dengan FGD diharapkan mempelopori pembentukan sebuah ekosistem berbasis industri hijau (ambassador of change). Hal ini akan berguna mempromosikan dan meningkatkan kepedulian terhadap industri hijau sebagai upaya dalam mendukung target pemerintah dalam mencapai NDC dan NZE di tahun 2060.

Sejauh ini, baja merupakan komoditas penting bagi industri global. Persoalannya, hingga kini 70 persen produksi baja global berada di Asia.

Sementara, industri baja berkontribusi 4,1 persen dari total emisi CO2 dunia dan sekitar 3,2 persen dari semua gas rumah kaca (GRK). Hal ini berarti industri baja telah menyumbang emisi sebesar 15 persen dari emisi semua industri, dengan sekitar 70 persen emisi berasal dari penggunaan bahan bakar langsung dan sisanya datang secara tidak langsung dari listrik dan panas.

Dengan semakin berkembangnya emisi CO2 dari berbagai sektor termasuk industri yang mengurangi ketahanan atmosfir bumi dari panas matahari yang berdampak kepada bahayanya keberlanjutan pemanasan global dan perubahan iklim, maka berbagai kebijakan global yang mengontrol emisi CO2 didorong untuk diimplementasikan di seluruh dunia.

Berdasarkan Paris Agreement, maka setiap negara memberikan komitmen penurunan GRK dalam bentuk target Nationally Determined Contribution (NDC). Faktor penurunan emisi CO2 dari sebuah klasifikasi industri dijadikan benchmark (patokan) sebagai cap untuk menentukan pencapaian sebuah industri yang masuk dalam klasifikasi tersebut. Pencapaian ini yang akan menentukan nilai/ harga dari perdagangan dan pajak karbon didalam negeri maupun antar negara.

“Pemerintah Indonesia menaikkan target NDC 2030 dari 29 persen menjadi 31,8 persen untuk menuju karbon netral tahun 2060 atau lebih cepat. Bertransformasi menjadi karbon netral, Indonesia akan membutuhkan tindakan kolektif dari semua aktor yang melibatkan sektor swasta dan publik untuk membangun ekosistem yang berdaya-guna,” jelas Herman Supriadi, Kepala Pusat Standar Industri Hijau, Badan Standardisasi dan Kebijakan jasa Industri, Kementerian Peridustrian. (AT Network)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Emisi KarbonIndustri Baja
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia’s $9 Million Immigration Scandal Tarnishes the Nation’s Global Reputation
  • Indonesia Centralizes Strategic Commodity Exports Under Single-State Gateway
  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.