ASIATODAY.ID, KOLAKA – Panglima Kodam (Pangdam) XIV Hasanuddin, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Totok Imam Santoso meninjau Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Obyek Vital Nasional (Obvitnas) PT Ceria Nugraha Indotama di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Rabu (5/7/2023).
Pangdam ingin memastikan stabilitas keamanan proyek smelter nikel PT Ceria agar bisa selesai sesuai target Presiden Jokowi pada akhir 2024.
Dalam kunjungannya itu, Pangdam didampingi Danrem 143 Haluoleo Brigjen TNI Ayub Akbar, Asintel Kasdam XIV/Hsn Kolonel Inf Enjang, Asops Kasdam XIV/Hsn Kolonel Inf Josep D.D Surbakti dan Kasi Ops Kasrem 143/HO Kolonel Inf Triono.

Mereka diterima Deputy President Derector PT Ceria Djen Rizal, Direktur Operasional PT Ceria Yusram Rantesalu, Koordinator Pengamanan PT Ceria Brigjen TNI (Purn) Andi Kaharuddin, Komisaris utama/manager eksternal PT Ceria Andarias P Batara.
Rombongan Pangdam melakukan peninjauan di lokasi Terminal Khusus (Tersus) PT Ceria di Babarina Desa Muara Lapao-pao. Setelah itu melakukan pertemuan di Rumah Tamu Site Ceria.
Pada kesempatan itu, Dir Ops PT Ceria Yusram Rantesalu menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Pangdam dan Danrem 143 Haluoleo atas prestasi yang dilakukan anggotanya dalam mengungkap pelanggaran SOP, serta pembalakan di area IUP PT Ceria.
Pangdam yang diwakili Danrem 143 Haluoleo, Brigjen TNI Ayub Akbar berpesan kepada perusahaan agar senantiasa menjaga hubungan baik dengan masyarakat setempat.
“Jika terjadi masalah, hendaknya diselesaikan dengan jalan musyawarah, mengedepankan komunikasi atau pendekatan, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuhnya.

Pangdam menginstruksikan kepada seluruh anggota tim Hasanuddin yang berada di perusahaan PT Ceria, agar mendukung kegiatan perusahaan dan selalu mengedepankan pendekatan dan komunikasi yang baik dengan masyarakat.
Proyek Smelter Ceria
Sebagai perusahaan swasta nasional, saat ini PT Ceria sedang berpacu untuk menyelesaikan proyek smelter yang di lokasi tersebut.
Adapun smelter PT Ceria yang sedang dibangun akan menggunakan 2 teknologi utama, teknologi Rectangular Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan kapasitas 4×72 MVA, terdiri dari 4 Iajur produksi untuk mengolah bijih Nikel Saprolite yang ditargetkan rampung 2024 dan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk mengolah bijih Nikel Limonite (Bijih Nikel kadar lebih rendah) untuk menghasil baterai kendaraan listrik yang ditargetkan rampung 2026.
Total kapasitas produksi dari smelter nikel RKEF ini nantinya dapat menghasilkan sekitar 252.000 ton Ferronickel (FeNi) dengan kandungan 22% Nickel atau sejita 55.600 ton Nickel di dalamnya. Sedangkan dari pengolahan HPAL akan memiliki kapasitas produksi sebesar 308.000 ton dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang di dalamnya terkandung 120.000 ton Logam nikel dan lebih dari 12.500 ton cobalt.
Produk FeNi ini nantinya dapat diolah lebih Ianjut untuk memproduksi Stainless Steel dan produk turunannya (consuming needs). Sementara MHP merupakan produk antara untuk diolah Lebih lanjut menjadi nickel sulphate yang merupakan bahan baku utama prekursor baterai (material katoda).
PT Ceria juga saat ini sedang melakukan studi kelayakan untuk mengolah lebih lanjut FeNi menjadi Nickel matte dan Nickel Sulphate, serta mengolah lebih kanjut MHP menjadi Nickel Sulphate. Selanjutnya Nickel Sulphate dari 2 jalur produksi tersebut akan diolah menjadi prekursor yang merupakan bahan baku utama baterai (material katoda dan anoda baterai).
Seluruh aktivitas industri PT Ceria menerapkan prinsip dan kaidah Environment, Social and Governance (ESG). PT Ceria berkomitmen untuk mengupayakan kegiatan produksi yang hijau dengan jejak karbon serendah mungkin. Bahkan PT Ceria juga akan mengimplementasikan program dekarbonisasi dengan berpartisipasi dalam pasar karbon dengan melakukan perdagangan karbon (carbon trading). (AT Network)
Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News
