• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

Larangan Ekspor Solar Rusia Berdampak di Asia

by Redaksi Asiatoday
September 22, 2023
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Pasar Minyak Rusia Tersebar di 48 Negara, Sebagian Besar di Asia

Russian oil tanker. Doc

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Larangan eskpor bahan bakar minyak dari Rusia telah memicu kenaikan harga solar di pasar Asia, bahkan ketika sejumlah pengamat menilai larangan tersebut akan segera dicabut.

Larangan eskpor Rusia, yang mulai berlaku pada Kamis (21/9/2023) tampaknya akan memperburuk ketatnya pasar bahan bakar global, dengan permintaan yang akan meningkat pada bulan-bulan musim dingin karena banyak kilang di dunia yang tidak mempunyai sarana untuk meningkatkan produksi.

Di Asia, terdapat komplikasi tambahan karena pemulihan sektor penerbangan China juga semakin cepat, sehingga meningkatkan konsumsi bahan bakar jet, produk yang memiliki sifat serupa dengan solar.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Mengutip Bloomberg, Jumat (22/9/2023), pembatasan ekspor yang diberlakukan oleh Moskow merupakan guncangan terbaru yang dialami pasar energi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 yang mengubah aliran minyak mentah dan produk di seluruh dunia.

Menurut data Vortexa Ltd, diesel atau solar adalah produk andalan bagi perekonomian global, menggerakkan truk, kapal dan kereta api, dan sepanjang tahun ini Rusia menjadi pengirim barang melalui laut terbesar di dunia.

“Banyak hal akan bergantung pada berapa lama Rusia mempertahankan larangan ekspor bahan bakar” kata analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar.

Para pengolah minyak di China dan India telah mengekspor lebih banyak solar ke pembeli internasional karena kedua raksasa penyulingan tersebut mengonsumsi minyak mentah Rusia dan Iran dalam jumlah besar.

Selain itu, Asia juga bukan salah satu pembeli utama solar dan bensin Rusia, sehingga tidak akan terkena dampak paling parah dari larangan tersebut.

Pada Jumat, harga solar dibandingkan minyak mentah Dubai di Singapura naik 3,4 persen menjadi US$30,21 per barel. Harga tersebut masih jauh di bawah harga tertinggi pada Agustus 2023 yang di atas US$34 per barel, yang merupakan harga tertinggi sejak Januari 2023.

Isu Penyimpanan

Meskipun Rusia belum memberikan batas waktu berapa lama larangan ekspor solar, serta larangan tambahan untuk pengiriman bensin akan diberlakukan, ada ekspektasi luas bahwa larangan tersebut akan berlangsung singkat.

“Setelah pasokan dalam negeri terisi kembali, Rusia harus melanjutkan ekspor karena kurangnya kapasitas penyimpanan cadangan. Paling lambat, ekspor solar Rusia diperkirakan akan dilanjutkan dalam dua minggu, mungkin lebih awal.” kata konsultan industri FGE.

Pandangan serupa juga diutarakan oleh JP Morgan Chase & Co. “Larangan di Rusia hanya akan berlangsung beberapa minggu, sampai panen selesai pada bulan Oktober,” tulis para analis termasuk Natasha Kaneva dan Prateek Kedia.

Namun penilaian yang dilakukan oleh Citigroup Inc. memiliki jangka waktu yang lebih lama, dengan larangan yang berlangsung sekitar enam minggu. Yang pasti, solar Rusia telah dialihkan ke pasar seperti Turki, Amerika Latin, dan bahkan Timur Tengah sejak larangan Kelompok Tujuh terhadap bahan bakar Rusia diberlakukan.

Meskipun hilangnya aliran minyak dari Rusia tidak akan langsung terasa di Asia karena kawasan ini merupakan rumah bagi industri penyulingan minyak yang besar, namun hal ini dapat memperketat pasar diesel global yang sudah bergejolak. Pada saat yang sama, terdapat juga kekhawatiran mengenai kemampuan China untuk mengekspor lebih dari tingkat saat ini, yang sudah berada di atas normal.

Pabrik penyulingan lokal telah meningkatkan pengolahannya dalam beberapa bulan terakhir karena besarnya keuntungan yang dihasilkan dari pembuatan bahan bakar, dan juga dari ekspor, meskipun arus keluar bahan bakar di China dikendalikan oleh kuota yang ditetapkan pemerintah, bukan oleh kekuatan pasar bebas. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Harga Minyak MentahRusia
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.