• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 5, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home STUDY AND ENVIRONMENT

Planet Bumi Terpanggang Suhu Panas, Angka Kematian Manusia Diprediksi Naik 370%

by Redaksi Asiatoday
November 16, 2023
in STUDY AND ENVIRONMENT
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Planet Bumi Terperangkap Suhu Panas Ekstrem, Emisi Karbon harus Dihentikan

Kenaikan suhu panas ekstrem mengancam kehidupan di planet bumi. Ilustrasi

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Kehidupan di planet bumi makin mengkhawatirkan akibat pemanasan global.

Sebuah tim ahli kesehatan internasional baru-baru ini memprediksi jika suhu bumi naik hingga dua derajat Celsius pada akhir abad ini, angka kematian tahunan akibat cuaca panas diproyeksikan naik hingga 370% pada 2050.

Menurut prakiraan global dari laporan tahunan ke-8 Lancet Countdown, pada tahun 2022, manusia mengalami rata-rata 86 hari suhu tinggi yang mengancam kesehatan, 60 persen di antaranya disebabkan oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

RelatedPosts

Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers

Indonesia Faces Methane Emergency as ASEAN and South Korea Launch $20 Million Climate Waste Initiative

AMAN and UNESCO Lead Safety Training for Indigenous Women Journalists in Makassar

Orang yang berusia di atas 65 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan suhu, dengan kematian pada kelompok usia ini disebabkan oleh kenaikan suhu yang meningkat 47% dalam satu dekade terakhir dibandingkan dengan jumlah orang yang meninggal pada periode 1991-2000.

Temuan yang dikumpulkan oleh lebih dari 100 ahli dari 52 lembaga penelitian dan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa termasuk Organisasi Kesehatan Dunia ini memperdalam keprihatinan atas dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh panas.

Mengutip laman The National, Kamis (16/11/2023), Prof Stella Hartinger, direktur Lancet Countdown Regional Centre untuk Amerika Latin, mengatakan “Kita harus mengurangi emisi gas rumah kaca melalui transisi energi yang adil, untuk memastikan bahwa bahaya iklim tidak melebihi kapasitas adaptasi sistem kesehatan kita.”

Sebuah studi awal tahun ini mengindikasikan bahwa sekitar 61.000 orang kemungkinan besar akan meninggal dunia selama gelombang panas di Eropa pada musim panas 2022.

Gelombang panas yang lebih sering terjadi juga dapat menyebabkan kerawanan pangan bagi 525 juta orang pada pertengahan abad ini, sehingga dapat memperparah risiko malnutrisi secara global.

Selain itu, penyakit menular yang mengancam jiwa juga diprediksi akan menyebar lebih luas pada pertengahan abad ini. Potensi penularan demam berdarah diproyeksikan akan meningkat sebesar 36-37 persen, yang berkontribusi pada ekspansi global yang cepat.

Prof Hartinger menekankan pentingnya mengatasi akar penyebab perubahan iklim melalui mitigasi yang cepat di semua sektor untuk mencegah kelebihan beban sistem kesehatan.

“Sektor kesehatan memiliki peran besar dalam transisi ini, tidak hanya dengan menuntut aksi iklim, tetapi juga dengan mendekarbonisasi kegiatannya sendiri, yang berkontribusi terhadap 4,6 persen dari seluruh emisi gas rumah kaca global, dan dengan memberikan intervensi kesehatan masyarakat yang secara simultan meningkatkan kesehatan kita, dan melindungi lingkungan tempat tinggal kita,” ujarnya mengutip laman The National.

“Hal ini mencakup regulasi polusi udara yang lebih ketat, yang sejalan dengan penghentian penggunaan bahan bakar berbahaya, mendukung penerapan pola makan yang lebih sehat dan lebih banyak menggunakan bahan nabati, yang memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah, serta mendukung kota yang lebih sehat dan berpusat pada masyarakat,” tambahnya. (ATN)

Simak Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tags: Bencana iklimPemanasan GlobalSave Earth
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia-Based International Love Scam Ring Busted After Stealing $2.5 Million From Victims
  • No Escape: Singapore Court Rejects Paulus Tannos’ Challenge, Extradition Looms
  • Indonesia’s Nickel Crisis Deepens: Weda Bay Mine Shutdown Puts 11,700 Jobs at Risk
  • China’s Nickel Giants Look to Africa as Policy Uncertainty Puts Indonesia’s Dominance at Risk
  • Indonesia’s Immigration Corruption Scandal: Deputy Minister Suspended as KPK Uncovers $9 Million Extortion Scheme
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.