ASIATODAY.ID, SEMARANG – Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah berupaya mengejar target ekspor produk UMKM mencapai US$18,88 juta atau sekitar Rp264,32 miliar sampai dengan akhir 2019.
Untuk mencapai itu, pemerintah daerah setempat aktif memacu para pelaku UMKM sekaligus eksportir melalui pendampingan dan pelatihan, mulai dari pelaku usaha batik, kerajinan dan olahan ikan.
“Kami berharap target Pemerintah Kota Pekalongan Tahun 2019 untuk nilai ekspor sebesar US$18,88 juta, bisa tercapai,” terang Kepala Dindagkop-UKM Kota Pekalongan Bambang Nurdiyatman dalam keterangan resmi, Sabtu (7/12/2019).
Berdasarkan data Dindagkop-UKM, per September 2019 ada 21 pelaku eksportir di Kota Pekalongan dengan capaian nilai ekspor US$15,98 juta. Mayoritas eksportir merupakan komoditas tekstil yang diekspor ke negara Korea Selatan, India, Vietnam, China, Singapura, dan Bangladesh.
Selain itu, pelaku UMKM sarung baik sarung palekat maupun sarung batik Pekalongan diekspor ke Malaysia, Thailand, Singapore, Dubai, Hongkong, India, Cina, Arab Saudi.
“Di samping itu, ada berbagai kerajinan tangan, kain batik, tembaga batik, dan hasil olahan ikan juga sudah banyak,” ujarnya.
Walikota Pekalongan Saelany Machfudz, menyampaikan bahwa dalam kegiatan pelatihan yang ditindaklanjuti dengan pembinaan calon eksportir ini merupakan upaya meningkatkan kualitas pelaku usaha di Kota Pekalongan dalam menghadapi persaingan global.
Oleh karena itu, perlu adanya kesiapan pelaku usaha di daerah untuk mengembangkan produknya ke negara lain atau melakukan ekspor.
“Para eksportir harus kita pacu walaupun kondisi perekonomian global ini masih gonjang ganjing. Kita buktikan kita mampu menampilkan produk-produk yang lebih berkualitas,” tuturnya.
Saelany menyambut baik upaya pendampingan bagi calon eksportir ini agar menjadi bekal ilmu peserta dalam memasuki dunia ekspor secara global. Pasalnya, terdapat banyak syarat yang dipenuhi agar produk mereka dapat diterima di mancanegara. (AT Network)
,’;\;\’\’
