• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Friday, June 26, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home News

10 Juta Siswa di Dunia Kini Terancam Putus Sekolah

by Redaksi Asiatoday
July 15, 2020
in News
Reading Time: 2 mins read
A A
0
10 Juta Siswa di Dunia Kini Terancam Putus Sekolah

Anak-anak sekolah. Dok

ASIATODAY.ID, LONDON – Sebanyak 10 juta siswa di seluruh dunia kini terancam putus sekolah akibat pandemi Covid-19. Demikian laporan badan amal Inggris, Save the Children yang dimonitor Rabu (15/7/2020).

Save the Children mengutip data UNESCO yang menunjukkan bahwa pada April lalu 1,6 miliar siswa belajar dari rumah sebagai upaya menekan angka penularan Covid-19. Jumlah itu sekitar 90 persen dari seluruh populasi siswa di dunia.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, seluruh generasi anak-anak di seluruh dunia mengalami gangguan pendidikan,” kata lembaga itu dalam laporan Save our Education melansir AFP.

RelatedPosts

Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy

New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System

Indonesia Expands De-Dollarization Drive, Targets India and South Korea for Local Currency Trade Deals

Dikatakan, kejatuhan ekonomi dari krisis ini dapat memaksa 90 hingga 117 juta anak-anak ke dalam jurang kemiskinan, dengan efek langsung pada penerimaan sekolah.

Dengan banyaknya anak muda yang dituntut untuk bekerja atau anak perempuan yang dipaksa menikah dini untuk menghidupi keluarga mereka, kondisi ini dapat menyebabkan 9,7 juta anak putus sekolah secara permanen.

Save the Children juga memperingatkan bahwa krisis itu dapat menyisakan defisit anggaran pendidikan sebesar USD77 miliar, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada akhir 2021.

“Sekitar 10 juta anak mungkin tidak pernah kembali ke sekolah, ini adalah darurat pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pemerintah harus segera berinvestasi dalam belajar,” kata kepala eksekutif Save the Children Inger Ashing.

“Alih-alih, kita beresiko pemotongan anggaran yang tak tertandingi yang akan melihat ketimpangan yang ada meledak antara si kaya dan si miskin, dan antara anak laki-laki dan perempuan,” lanjut dia.

Save the Children juga mendesak kreditor komersial untuk menunda pembayaran utang untuk negara-negara berpenghasilan rendah, sebuah langkah yang dinilai dapat membebaskan USD14 miliar untuk program pendidikan.

“Jika kita membiarkan krisis pendidikan ini berlangsung, dampaknya pada masa depan anak-anak akan bertahan lama,” kata Ashing.

“Janji yang telah dibuat dunia untuk memastikan semua anak memiliki akses ke pendidikan berkualitas pada tahun 2030, akan mundur beberapa tahun,” tandas Ashing. (ATN)

Tags: PengangguranSave the ChildrenUNESCO
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia Challenges Singapore and Dubai as It Unveils Ambitious Global Financial Center Strategy
  • Indonesia’s $100 Billion Nickel Bet Faces a New Threat as Global EV Battery Technology Shifts
  • U.S. Pushes Indonesia’s Nuclear Ambitions
  • New War on Corruption: Philippines Overhauls Public Finance System
  • Now for Climate: Young Indonesians Take Action for the Planet
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.