ASIATODAY.ID, JENEWA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terus mendorong pemimpin dunia untuk menjadikan perubahan iklim sebagai fokus bersama. Pasalnya, dunia kian kehabisan waktu untuk bisa mengatasi krisis iklim global.
Pada Senin (19/4/2021), PBB mengultimatum seluruh pemimpin dunia agar tahun 2021 harus menjadi tahun aksi untuk melindungi masyarakat dari bencana yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
“Kita berada di ambang jurang saat ini,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada konferensi pers saat mengungkapkan laporan Keadaan Iklim Global 2020 oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB.
Menjelang pertemuan puncak penting yang diadakan Amerika Serikat (AS), PBB memperingatkan waktu manusia hampir habis untuk mengatasi krisis iklim. Sementara pandemi Covid-19 telah gagal mengerem perubahan iklim yang “tanpa henti”.
Seruan itu muncul bersamaan dengan laporan utama menjelang KTT iklim Presiden AS Joe Biden mulai Kamis.
Sejumlah pemimpin dunia telah diundang untuk menghadiri pembicaraan virtual Biden yang bertujuan menggalang upaya negara-negara besar untuk mengatasi krisis iklim.
“Ini benar-benar tahun yang sangat penting bagi masa depan umat manusia. Laporan ini menunjukkan kita tidak punya waktu untuk disia-siakan, gangguan iklim ada di sini,” kata Guterres, seraya mendesak negara-negara untuk “mengakhiri perang kita terhadap alam.”
Laporan tersebut menggambarkan tahun 2020 sebagai salah satu tahun terpanas dalam catatan, sementara konsentrasi gas rumah kaca meningkat meskipun terjadi perlambatan ekonomi terkait pandemi.
Menurut Guterres, tahun lalu memperlihatkan cuaca ekstrem dan gangguan iklim, yang dipicu oleh perubahan iklim antropogenik, mempengaruhi kehidupan, menghancurkan mata pencaharian dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka..
“Ini adalah tahun untuk bertindak. Negara-negara harus berkomitmen untuk mencapai nol emisi pada tahun 2050. Mereka perlu bertindak sekarang untuk melindungi orang dari efek bencana perubahan iklim,” kata Sekjen PBB itu. (ATN)
