• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

60 Persen Industri Manufaktur di Indonesia Terdampak Covid-19

by Redaksi Asiatoday
April 22, 2020
in Business
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Indonesia Fokus Pacu Investasi Sektor Manufaktur

Industri manufaktur Indonesia. dok

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian memetakan sektor industri pada tiga kelompok guna mengidentifikasi dan langkah pengawasan akibat pandemi Covid-19.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan untuk kelompok industri yang suffer pemerintah berupaya mencari jalan keluar.

Pemerintah tetap mempertimbangkan industri yang memiliki permintaan tinggi agar tetap berkontribusi memperkuat neraca perdagangan.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

“Hasil pemetaan menunjukkan ada 60 persen industri yang masuk kelompok berdampak berat (suffer) dan 40 persen lainnya moderat dan high demand. Kelompok moderat hanya satu industri yakni petrokimia,” teran Agus Gumiwang melalui keterangannya, Rabu (22/4/2020).

Kelompok suffer diantaranya industri logam, perlistrikan, semen, keramik, kaca, elektronika, otomotif, karet, mesin, alat berat, galangan kapal termasuk kereta api dan pesawat, tekstil, dan kerajinan.

Untuk kelompok dengan permintaan tinggi diisi oleh industri alat kesehatan termasuk di dalamnya APD dan maker yang juga diproduksi oleh garmen, farmasi dan fitofarmaka, serta makanan dan minuman.

Menurut Agus, salah satu langkah yang sudah dilakukan Kemenperin yakni dengan melakukan relokasi anggaran untuk Covid-19 sebesar Rp113,15 miliar yang kosentrasikan untuk dunia usaha.

Prioritas relokasi untuk Industri Kecil Menengah atau IKM dengan besaran Rp92 miliar atau 81 persen dari total Rp113,15 miliar.

Agus mengemukakan rincian dari alokasi R92 miliar yakni untuk menumbuhkan wira usaha baru atau WUB IKM sebesar Rp57 miliar.

Selanjutnya, untuk restrukturisasi mesin Rp10 miliar, untuk membantu bahan baku industri Rp15 miliar, dan untuk meningkatkan kemampuan sentra dan penguatan produk IKM logam, elektronika alat angkut sebesar Rp10 miliar.

Selain itu upaya lain dengan terus mengajukan sejumlah tambahan stimulus untuk dunia usaha agar dapat melalui krisis akibat pandemi ini dengan baik.

“Utamanya untuk pembayaran rutin hingga THR kami ajukan sejumlah opsi dan keringanan untuk perusahaan agar menghindari hal-hal yang buruk seperti PHK,” imbuhnya. (ATN)

Tags: Corona IndonesiaCOVID-19Industri IndonesiaIndustri ManufakturKemenperinManufaktur
No Result
View All Result

Terbaru

  • Indonesia: UN Experts Condemn Military Trial in Acid Attack Case Targeting Human Rights Defender Andrie Yunus
  • Indonesia’s Rupiah Hits Record Low as OECD Warns Economy Is Falling Behind Vietnam
  • Indonesia’s Massive Free Meals Program Set to Reach 85 Million Beneficiaries
  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.