• About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak
Thursday, June 4, 2026
AsiaToday.id
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM
No Result
View All Result
AsiaToday.id
No Result
View All Result
Home Business

ADB Ungkap Skenario Dampak Ekonomi di Asia Akibat Wabah Corona

by Redaksi Asiatoday
March 7, 2020
in Business
Reading Time: 3 mins read
A A
0
ADB Ungkap Skenario Dampak Ekonomi di Asia Akibat Wabah Corona

Laporan terbaru ADB tentang dampak ekonomi Asia akibat Corona. ist

ASIATODAY.ID, JAKARTA – Asian Development Bank (ADB) mengungkap 4 skenario dampak ekonomi Asia dan global akibat wabah virus corona (Covid-19).

Skenario ini berpijak pada kebijakan China yang memutuskan untuk menutup jalur ekonominya demi menghentikan penyebaran wabah virus corona (covid-19).

Dalam skenario terburuk, ADB memperkirakan tekanan dari wabah virus corona terhadap ekonomi China akan berlangsung hingga enam bulan, terhitung sejak Januari 2020.

RelatedPosts

Indonesia–France Business Council Launched to Drive US$3.5 Billion in New Investments

HIPMI Jaya Holds 2026 Regional Leadership Training

Kana Cooperative Opens New PIK2 Branch to Strengthen Business Ecosystem

Dengan tekanan ini, larangan terbang dan kebijakan lainnya akan tetap diberlakukan selama periode tersebut. Artinya, China akan kehilangan sebanyak 2 persen pada pertumbuhan konsumsi dan investasinya.

“Tingkat outbond pariwisata China turun 50 persen dalam enam bulan. Bagi negara-negara yang memberlakukan larangan terbang, tidak ada penerimaan devisa wisata dari China selama enam bulan,” demikian keterangan tertulis ADB yang diterima Sabtu (7/3/2020).

Menurut ADB, jumlah kunjungan turis ke China dan negara-negara Asia Tenggara diperkirakan turun 40 persen akibat wabah virus corona.

Problemnya, sebagai negara dengan kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia, China menyumbang hampir sepertiga pertumbuhan ekonomi global. Secara statistik, jika ekonomi China terpukul, akan menimbulkan efek domino. Artinya, negara lain juga akan terpukul dan mungkin bakal lebih berat.

WHO sendiri menyebutkan wabah corona sebagai kejadian luar biasa dan berawal dari China lainnya: Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Tingkat kematian wabah virus corona (1 persen sampai 3,4 persen), tak sebesar SARS (10 persen), termasuk tingkat ketertularannya. Data WHO per Jumat (6/3/2020), virus itu sudah menjalar ke 79 negara.

Sebagai negara dengan populasi penduduk terbanyak di dunia, China memegang peran perekonomian banyak negara, utamanya soal pariwisata.

Berdasarkan catatan ADB, lima negara dengan kunjungan wisata terbanyak dari China pada 2018 berasal dari Hong Kong (68 lersen turisnya berasal dari China), Palau (39 persen), Kamboja (33 persen), Vietnam (32 persen), dan Korea Selatan (Korsel 31 persen), sementara Indonesia 16 persen turisnya berasal dari China.

ADB membuat empat skenario pengaruh ekonomi dari sektor pariwisata. Yang pertama, jika pariwisata di China ditutup 2 bulan (skenario terbaik), lalu 3 bulan (moderat), 6 bulan (buruk), dan lebih dari 6 bulan (terburuk).

(1) Skenario terbaik: Pariwisata dari luar Asia ke negara Asia non-China, seperti Asia Timur atau Tenggara, akan turun sama seperti saat SARS, atau sekitar 7,7 persen.

(2) Skenario moderat: Pariwisata dari luar Asia ke negara Asia non-China, seperti Asia Timur atau Tenggara, akan turun sekitar 17,7 persen.

(3) Skenario buruk dan terburuk: Pariwisata dari luar Asia ke negara Asia non-China, seperti Asia Timur atau Tenggara, akan turun 47,7 persen.

“Skenario ini akan diperbarui, terutama jika wabah virus corona meluas secara signifikan menjadi pandemik global,” demikian laporan ADB.

Kerugian Global

ADB menghitung, dampak global akibat virus corona ini akan berkisar USD77 miliar hingga USD347 milar. Angka tersebut setara dengan 0,1 persen hingga 0,4 persen PDB global.

Untuk skenario moderat pengaruhnya sekitar USD156 miliar, atau 0,2 persen PDB global. Negara-negara berkembang Asia akan mengalami kerugian sekitar USD22 miliar, atau 0,24 persen jika menggunakan skenario moderat.

“Dalam skenario yang sama, secara global, potensi kehilangan ekonomi dunia mencapai US155 miliar dan China sendiri USD103 miliar. Itu dalam skenario moderat. Jika skenario buruk, secara global, potensi kerugian dunia mencapai USD346 miliar. Angka tersebut berasal dari potensi kerugian China (USD236 miliar), negara Asia non-China (USD42 miliar) dan sisanya dari negara-negara lain (USD68 miliar). (AT Network)

,’;\;\’\’
Tags: ADBAsian Development BankCoronavirusCOVID-19Ekonomi Asia PasifikEkonomi ChinaEkonomi DuniaPariwisataVirus CoronaWHO
No Result
View All Result

Terbaru

  • Corruption Scandal Hits Indonesia’s Free Meals Program as Former Nutrition Chiefs Are Jailed
  • Indonesian Nickel Downstreaming: IPIP Pomalaa Urged to Avoid IMIP and IWIP Pitfalls
  • Securing Carbon Credits for Smallholder Farmers
  • Indonesia Accelerates OECD Membership Bid and Ratification of I-EU CEPA
  • Indonesia Deepens Mineral Cooperation with China Amid Global Race for Critical Resources
  • About Us
  • Editorial Team
  • Cyber ​​Media Guidelines
  • Karir
  • Kontak

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
  • BUSINESS
  • GREEN ENERGY
  • TRAVEL
  • EVENT
  • SCIENCE & ENVIRONMENT
  • CORPORATION
  • FORUM

© 2022 Asiatoday.id - Asiatoday Network.